Translate

Selasa, 25 Agustus 2009

Keutamaan Tahlil,tasbih,tahmid dan Takbir

KEUTAMAAN TAHMID, TAHLIL, TASBIH DAN TAKBIR
فَضْلُ التَّحْمِيْدِ وَ التَّهْلِيْلِ وَ التَّسْبِيْحِ وَ التَّكْبِيْرِ

Rasûlullâh saw bersabda dalam beberapa haditsnya sebagai berikut :

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : (مَنْ قَالَ : [ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمدُ, وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ], فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ, كَنَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ, وَ كُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ, وَ مُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ, وَ كَنَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ, وَ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ
(متفق عليه)

Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Barangsiapa membaca :
lâ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarîka lahû, lahûl-mulku wa lahûl-hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai-in qadîr
(Tidak ada Tuhan kecuali Allâh Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, baginya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia kuasa atas segala sesuatu)
100 (seratus) kali dalam 1 (satu) hari, maka ia (mendapat pahala) sama dengan memerdekakan 10 (sepuluh) hamba sahaya, dan dia dipastikan akan mendapat (pahala) 100 (seratus) kebaikan dan akan dihapus daripadanya 100 (seratus) kesalahannya serta dia akan dipelihara dari gangguan syaithan pada hari itu hingga sore hari; dan tidaklah seseorang akan mendapatkan yang lebih baik dari itu (keutamaan), melainkan seseorang yang mau mengamalkan lebih banyak lagi”
(Muttafaqun ‘alaihi)

وَ قَالَ : مَنْ قَالَ [ سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ ] فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ, حُطَّتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَ إِنْ كَنَتْ مِثْلُ زَبَدِ الْبَحْرِ
(متفق عليه)

Artinya :
“Dan Nabi saw bersabda : Barangsiapa membaca :
subhânallâhi wa bihamdihî
(Maha Suci Allâh dan dengan memuji-Nya)
100 (seratus) kali dalam 1 (satu) hari, maka akan dihapus dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan ”
(Muttafaqun ‘alaihi)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ, ثَقِيْلَتَانِ فِ الْمِيْزَانِ, حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَانِ : [ سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ, سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ ]
(متفق عليه)

Artinya :
“Ada 2 (dua) ucapan/kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allâh yang Maha Pemurah, yaitu : subhânallâhi wa bihamdihî, subhânallâhil-azhîm
(Maha Suci Allâh dan dengan memuji-Nya, Maha Suci Allâh lagi Maha Agung)”
(Muttafaqun ‘alaihi)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : َلأَنْ أَقُوْلَ [ سُبْحَانَ اللهِ, وَ الْحَمْدُ ِللهِ, وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ اللهُ أَكْبَرُ ], أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
(أخرجه مسلم)

Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Sungguh aku lebih senang membaca : Subhânallâhi wal-hamdulillâhi wa lââ ilâha illallâhu wallâhu akbaru daripada terbitnya matahari”
(H.R. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَرْبَعٌ, لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ, [ سُبْحَانَ اللهِ, وَ الْحَمْدُ ِللهِ, وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ اللهُ أَكْبَرُ ]
(خرّجه مسلم)


Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Bacaan yang paling dicintai Allâh Ta’âlâ ada empat, yang tidak salah engkau mulai dari mana saja, yaitu : Subhânallâhi wal-hamdulillâhi wa lââ ilâha illallâhu wallâhu akbaru”
(H.R. Muslim)

قَالَ رَسُولُ اللهِ  : أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبُ كُلَّ يَومٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ ؟ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ : كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ ؟ قَالَ : يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيْحَةٍ, فَتُكْتَبُ أَلْفَ حَسَنَةٍ, أَوْ تُحَّطُ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيْئَةٍ
(خرّجه مسلم)

Artinya :
“Rasûlullâh saw bersabda : Apakah seseorang di antaramu tidak mampu berbuat 1000 (seribu) kebaikan setiap hari ?. Lalu ada seorang dari kawan-kawan duduknya itu bertanya kepada Beliau : Bagaimana seseorang diantara kami ini dapat berbuat 1000 (seribu) kebaikan ?. Rasûlullâh saw menjawab, yaitu : Ia membaca tasbih (Subhânallâh) 100 (seratus) kali, maka baginya akan ditulis 1000 (seribu) kebaikan, atau dihapus daripadanya 1000 (seribu) kelasahannya”
(H.R. Muslim)

عَنْ جُوَيْرِيَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, أَنَّ النَّبِيَّ  خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِيْنَ صَلَّى الصُّبْحَ وَ هِيَ فِي مَسْجِدِهَا, ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَ وَ هِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ : مَ زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا ؟ قَالَتْ : نَعَمْ. فَقَالَ النَّبِيُّ  : لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلَمَاتٍ, ثَلاَثَ مَرَّاتٍ, لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ : [ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ, سُبْحَانَ اللهِ رِضَى نَفْسِهِ, سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ, سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ ]
(خرّجه مسلم)

Artinya :
“Dari Juwariyah ummul mu’min r.a. : Sesungguhnya Nabi saw pernah keluar dari tempatnya pagi-pagi seusai shalât Subuh sedangkan dia (Juwariyah) berada di tempat shalâtnya. Kemudian Nabi saw kembali sesudah shalât Dhuhâ sedangkan Juwariyah masih tetap duduk (di tempatnya itu). Lalu Nabi saw bertanya : Apakah engkau tetap pada tempatmu itu sejak kutinggalkan tadi ? Juwariyah menjawab : Ya. Lalu Nabi saw bersabda : Sungguh sesudah darimu tadi aku membaca 4 (empat) kalimat sebanyak 3 (tiga) kali, yang andaikata ditimbang dengan apa yang engkau baca (dari tadi) pada hari ini, niscaya akan seimbang, yaitu :
Subhânallâhi ‘adada khalqihî (Maha Suci Allâh sebanyak makhluq-Nya), Subhânallâhi ridhâ nafsihî (Maha Suci Allâh sebanyak yang diridhâi oleh diri-Nya), Subhânallâhi zinata ‘arsyihî (Maha Suci Allâh seberat ‘arsy-Nya), Subhânallâhi midâda kalimatihî (Maha Suci Allâh sepanjang kalimat-Nya)”
(H.R. Muslim)

قَالَ  ِلإَعْرَابِىٍّ : قُلْ [ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِكَ لَهُ, اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا, وَ الْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا, وَ سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قَوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ ] قَالَ فَهَؤُلآءِ لِرَبِّى, فَمَالِي ؟ قَالَ : قُلْ : [ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي, وَ ارْحَمْنِي, وَ اهْدِنِي, وَ عَافِنِي, وَ ارْزُقْنِي ]
(خرّجه مسلم)

Artinya :
“Nabi saw bersabda kepada seorang ‘Arab Baduwi : Ucapkanlah :
lââ ilâha illallâhu wahdahu lâ syarika lahû, Allâhu akbar kabirâ, wal-hamdulillâhi katsîrâ, wa subhânallâhi rabbil ‘âlamîn, wa lâ hawla wa lâ quwwata illa billâhi-‘azîzil-hakîm. Si Baduwi itu lalu berkata : Itu semua adalah untuk Rabbku, lalu apa yang untukku ? Nabi saw menjawab : Ucapkanlah :
Allâhummaghfirlî warhamnî wahdinî wa ‘âfinî warzuqnî
(Yâ Allâh yâ Tuhanku, ampunilah aku, sayangilah aku, tunjukilah aku, lindungilah aku dan berilah aku rizqi)”
(H.R. Muslim)

قَالَ النَّبِيُّ  : لَقِيْتُ إِبْرَاهِيْمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِي فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُُمَّتَكَ مِنِى السَّلاَمَ, وَ أَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةٌ التُّرْبَةِ, عَذْبَةُ الْمَاءِ, وَ أَنَّهَا قِيْعَانٌ, وَ أَنَّ غِرَاسَهَا : [ سُبْحَانَ اللهِ, وَ الْحَمْدُ ِللهِ, وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَ اللهُ أَكْبَرُ ]
(قال الترمذى : حديث حسن)

Artinya :
“Nabi saw bersabda : Aku pernah bertemu Ibrâhîm pada malam ketila aku di-Isra’-kan. Lalu Ibrâhîm berkata : Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada ummatmu, dan beritahulah mereka, bahwa surga itu adalah tanahnya sangat baik, airnya tawar, dan sesungguhnya surga itu adalah tanah yang penuh dengan ketenangan, tanaman-tanamannya ialah Subhânallâhi wal-hamdulillâhi wa lââ ilâha illallâhu wallâhu akbaru”
(H.R. Tirmidzî dan ia berkata : Hadits ini hasan)

قَالَ النَّبِيُّ  : أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ؟ فَقُلْتُ : بَلَى يَا رَسُولُ اللهِ. قَالَ : قُلْ [ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قَوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ]
(متفق عليه)

Artinya :
“Nabi saw bersabda : Maukah engkau kutunjukkan suatu gudang dari antara gudang-gudang surga ? Aku (shababat) berkata : Mau, yâ Rasûlullâh. Maka Rasûlullâh menjawab, yaitu : lâ hawla wa lâ quwwata illa billâh (tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allâh)”
(Muttafaqun ‘alaihi)