Translate

Rabu, 17 Februari 2010

Benarkan Iran Memprovokasi Dunia?

Untuk memperkuat posisi tawarnya menghadapi Barat, Iran melakukan pengayaan 20 persen uranium sambil tetap membuka peluang pengayaan di luar negeri

Oleh: Musthafa Luthfi*

Begitu Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan pengayaan uranium sebesar 20 persen di dalam negeri pada 7 Februari lalu sebagai respon atas lambannya negara-negara besar (Barat) merestui keinginan Iran menyangkut tukar menukar uranium di luar negeri, serentak dunia Barat yang dikomandoi AS menyebut negeri Mullah itu memprovokasi (baca: menantang) dunia.

Keputusan Iran tersebut mendorong AS makin intensif melakukan “kasak-kusuk” mengajak masyarakat dunia untuk memusuhi Iran, bukan saja lewat kecaman, tapi tindakan nyata, mulai dari sanksi lebih berat hingga serangan militer atas instalasi nuklir untuk menggagalkan ambisinya menjadi negara nuklir yang bisa menjadi momok Barat dan Israel. Slogan yang diusung adalah “Iran memprovokasi dunia”.

Dari enam negara besar (lima anggota tetap DK PBB plus Jerman) yang menangani masalah nuklir Iran itu, AS akhirnya berhasil setidaknya hingga saat ini meyakinkan lima negara (AS sendiri tentunya plus Inggris, Perancis, Rusia, dan Jerman) tentang perlunya peningkatan sanksi yang lebih berat. Untuk membujuk Cina tampaknya AS masih perlu upaya ektra intensif agar bergabung ``menggencet`` Teheran. Rusia yang sebelumnya menolak pemberatan sanksi, akhirnya melunak juga dan siap bersama Barat.

Di lain pihak, Menlu AS, Hilary Clinton mulai secara intensif melakukan ”kasak-kusuk” di negara-negara Teluk, seperti yang pernah dilakukan negeri Paman Sam itu saat merencanakan serangan atas rezim Saddam Hussein di Iraq pada 2003. Paling tidak ada tiga tujuan utama dari lawatan Clinton ke enam negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang dimulai dari Qatar 13 Februari lalu sekalian menyampaikan sambutan di hadapan Forum AS-Dunia Islam yang ke-7 di Doha.

Tujuan pertama adalah membujuk anggota GCC untuk aktif berpartisipasi dengan negara-negara besar guna mengefektifkan sanksi mendatang atas negara tetangganya Iran. Partisipasi GCC untuk mengefektifkan sanksi internasional sangat dibutuhkan Barat karena terbukti berbagai sanksi sebelumnya tidak berpengaruh sama sekali terhadap kelanjutan program nuklir damai (tapi oleh Barat dicurigai sebagai program pembuatan senjata atom) negeri Persia itu.

Tujuan kedua adalah mendesak GCC untuk membuka pangkalan darat, laut, dan udaranya bagi kepentingan negara-negara yang terlibat dalam serangan atas Iran nantinya (kemungkinan juga keterlibatan Israel) bila jalan damai tidak tercapai. Belum dapat dipastikan respon GCC menyangkut hal yang satu ini, namun bila melihat pelajaran sebelumnya di Iraq yang masih berdampak hingga saat ini, seharusnya opsi militer tersebut ditolak tegas sebagaimana yang dilakukan Turki, yang saat ini juga aktif menawarkan diri sebagai penengah antara Iran dan Barat.

Tujuan ketiga adalah mendapatkan harga minyak dan gas yang murah dari GCC untuk disuplai ke Cina sebagai salah satu cara untuk membujuk negeri Tirai Bambu itu agar ikut bergabung menjatuhkan sanksi berat atas Iran. Cara ini diharapkan menjadi imbalan bagi Cina yang memiliki hubungan dagang besar dengan Iran dan sangat dirugikan bila sanksi berat atas Teheran diberlakukan.

Bertepatan dengan lawatan Clinton ke GCC tersebut, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Gabungan AS, Laksama Michael G. Mullen juga berada di Tel Aviv untuk menyatukan langkah menghadapi sikap Iran. Untuk mempertegas kesiapan negara-negara kawasan bagi pemberlakuan sanksi lebih berat hingga opsi militer atas Iran, Wapres AS, Joe Bidan juga dijadwalkan berkunjung ke Timur Tengah pada minggu pertama Maret mendatang.

Lalu bagaimana Iran merespon perkembangan tersebut? Tampaknya negeri Mullah itu tidak gentar menghadapi berbagai ancaman yang dilontarkan Washington dan sekutu-sekutunya. Bahkan Presiden Nejad dalam konferensi pers di Teheran Selasa (16/2), menegaskan bahwa negaranya tetap melanjutkan pengayaan uranium hingga 20 persen sampai ada persetujuan timbal balik antara Iran dengan negara-negara besar menyangkut pertukaran uranium.

Sejatinya pengayaan uranium hingga 20 persen di dalam negeri bukanlah agenda yang telah disiapkan sebelumnya. Namun Nejad ingin memperlihatkan Barat bahwa persetujuan mendatang harus benar-benar ditepati sesuai jadwal penyerahan uranium yang diinginkan Iran, tidak mengulur-ulur waktu dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, sebab bila tidak, Iran mampu melakukan pengayaan di dalam negeri, bahkan hingga 80 persen.

Menyangkut sanksi, Nejad tidak terlalu khawatir, bahkan mengancam balik akan melakukan balasan lebih berat kepada negara-negara yang menerapkannya. Menyangkut kemungkinan serangan Israel, Nejad dengan enteng mengatakan, ”Kami sebelumnya telah mengetahui persiapan perang di Israel, namun bila negeri penjajah itu menyerang, maka balasan kami dan negara-negara kawasan akan sangat mengerikan.”

Bertepatan dengan ancaman balik dari Nejad itu, suara lantang dengan ancaman yang sama datang pula dari Lebanon saat Sekjen Hizbullah, Sheikh Hassan Nasrallah mengingatkan negeri Zionis itu bahwa semua instalasi vital Israel kali ini tidak akan luput dari sasaran rudal Hizbullah. ”Bila kalian (Israel) menyerang bandara Syahid Rafiq Hariri (di Beirut), kami akan menyerang Bandara Ben Gurion. Bila menyerang instalasi minyak, kami akan menyerang instalasi minyak kalian. Bila menyerang pembangkit listrik, kami akan menyerang pembangkit listrik kalian. Bila kalian menyerang Beirut, kami menyerang Tel Aviv,” tegasnya.

Pernyataan Hizbullah tersebut merupakan indikasi kesiapan Iran untuk memanfaatkan segala potensinya guna melakukan serangan balik yang sangat telak kepada negeri Zionis. Menyangkut persenjataan, Iran juga mengakui telah siap memproduksi sendiri rudal antirudal untuk mengawal instalasi atomnya, yang sejenis dengan rudal S.300 buatan Rusia, bahkan --menurut Jenderal Hashmatullah Washiri, seorang petinggi Pertahanan Udara Iran—lebih unggul, setelah Moskow mengulur-ulur penjualan S.300 kepada Teheran tanpa alasan jelas.

Krisis kepercayaan

Sikap Iran yang terkesan provokatif tersebut sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai sikap menantang dunia. Kenyataan sesungguhnya adalah masih melekatnya krisis kepercayaan timbal balik antara Iran dengan Barat menyangkut tukar menukar uranium yang sebelumnya disepakati kedua belah pihak lewat forum Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Yang mengganjal kesepakatan tersebut adalah mekanisme pelaksanaan persetujuan dimaksud. Di satu pihak Iran khawatir, kebutuhannya akan uranium yang dikayakan di luar negeri bisa menghambat program nuklir damainya bila suatu waktu Barat dengan alasan tidak jelas tiba-tiba menghentikannya.

Di lain pihak Barat sepertinya tidak percaya dengan tim inspeksi dari IAEA yang sampai saat ini menegaskan bahwa tidak ada indikasi negeri Persia itu melakukan program pembuatan senjata atom. Artinya, bila mekanisme pelaksanaan kesepakatan tersebut tidak jelas, maka setiap saat bisa saja terjadi pelanggaran, terutama dari pihak Barat yang sejatinya tetap menaruh curiga yang berlebihan atas niat Iran.

Sebab kecurigaan itu antara lain kemampuan iptek Iran yang demikian memukau, terutama di sektor pembuatan rudal dan teknologi luar angkasa, termasuk pembuatan satelit. ”Intinya Barat sebenarnya ’gerah’ dengan kemajuan iptek Iran dalam lima tahun belakangan ini yang berada di urutan ketiga dari negara-negara paling maju ipteknya dalam kurun waktu itu,” papar Dr. Najaf Ali Mirzae, pakar Arab asal Libanon.

Seandainya Iran menerima persetujuan sesuai keinginan Barat tersebut menyangkut pengayaan uranium di luar negeri, yang selanjutnya ditukar dengan uranium Iran yang belum dikayakan atau yang baru dikayakan sebatas 3 persen, Barat terutama AS tetap akan berdalih suatu saat bahwa Teheran melakukan pengayaan sebagian uraniumnya secara rahasia. Barat akhirnya menghentikan sementara untuk menunggu pembuktian sebaliknya dari Iran, yang bisa saja berlangsung bertele-tele lewat perundingan sia-sia.

Karena itu, untuk memperkuat posisi tawarnya menghadapi ”trick” Barat itu, Iran melakukan pengayaan 20 persen terlebih dahulu, sambil tetap membuka peluang pengayaan di luar negeri sebagaimana yang diinginkan Barat. Swasembada pengayaan uranium ini sedikitnya membuat Barat berpikir dua kali untuk mempermainkan Iran, bila nantinya kesepakatan baru tercapai, sebab bila Barat mungkir janji, hal ini bisa menjadi dalih Teheran untuk melakukan pengayaan hingga tingkat pembuatan senjata atom.

Guna menengahi ”mutual distrust” Iran-Barat itu, Turki mencoba meyakinkan Iran agar pertukaran uranium dapat dilakukan di negeri Attaturk itu. Menlu Turki Ahmet Davutoglu, pada 16 Februari lalu berkunjung ke Teheran untuk menyampaikan niatnya sebagai penengah, namun belum ada respon jelas dari Teheran sebab mitranya Menlu Iran, Manouchehr Mottaki, cukup memperingatkan Barat agar tidak mempermainkan negaranya menyangkut tukar menukar uranium tersebut, sambil mengingatkan bahwa peluang tukar menukar itu tetap terbuka.

Meskipun belum mendapatkan tanggapan serius, besar kemungkinan upaya Turki sebagai penengah pertukaran uranium itu bisa diterima Teheran dengan ketentuan pertukaran dilakukan di Turki. Meskipun negeri itu dikenal sebagai sekutu Barat, namun selaku sesama anggota negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan di bawah pemerintahan Islam, Turki bisa diterima Teheran.

Bagi Barat sendiri, Turki bisa dimanfaatkan untuk membujuk Iran untuk menerima tawaran insentif negara-negara besar itu. Meskipun demikian, peluang Barat, terutama AS, yang terus menerus ditekan Israel untuk mengelabui Iran, tetap terbuka.

Itulah sebabnya mengapa Iran begitu getol mendahului kemungkinan ”trick” tersebut dengan melakukan pengayaan terlebih dahulu guna membuktikan bahwa negara Mullah ini sebenarnya tidak terlalu butuh teknologi Barat karena sudah bisa berswasembada teknologi nuklir. Jadi, keputusan memperkaya uranium di dalam negeri sebesar 20 persen itu tidak bisa disebut ”provokasi”, apalagi ”menantang” dunia, sebab ulah Barat kepada dunia ketiga selama ini yang masih membawa mentalitas imperialisme yang membuat Iran berlaku demikian.

Pelajaran Uni Soviet

Di lain pihak, meskipun Iran secara teknologi militer dan persenjataan, paling tidak mampu menghadapi kemungkinan serangan Barat atau Israel, atau dengan kata lain mampu melakukan pembalasan, namun tidak menutup kemungkinan Barat menggunakan ”kartu” lain, yakni kelompok oposan anti-rezim sekarang, bila opsi serangan militer belum bisa diterapkan.

Karena terbukti dari Pilpres terakhir, ternyata kelompok oposisi dari sayap reformis tidak main-main menentang kelompok konservatif pimpinan Presiden Ahmadi Nejad. Barat ingin, melalui sanksi berat mendatang, untuk memprovokasi dan memeras Iran sekaligus, guna mencapai dua tujuan penting, yakni mengubah rezim dan menggagalkan teknologi pengayaan uranium yang dapat memproduksi bom atom.

Untuk menghadapi kemungkinan buruk tersebut, rezim Iran sekarang seyogyanya tidak terlalu ”jor-joran” menghabiskan anggaran hanya untuk teknologi senjata, tanpa menghiraukan perekonomian yang masih sulit, apalagi bila sanksi berat akhirnya diberlakukan internasional (baca : Barat). Paling tidak bisa mengambil pelajaran dari bekas Uni Soviet yang pernah menjadi negara paling kuat dari segi persenjataan, akhirnya ambruk dari dalam akibat kondisi ekonomi yang lemah.

Karena itu banyak analis Barat yang memperkirakan bahwa serangan militer atas negeri Persia itu justru akan menimbulkan hasil sebaliknya dari yang diinginkan Barat, karena selain akan memperkuat rezim sekarang, juga menyatukan dua kelompok Iran (Reformis dan Konservatif).

”Serangan akan menyelamatkan rezim sekarang dan memperkuat Iran dari dalam. Paling tepat membiarkan situasi politik dalam negeri makin panas agar terjadi perubahan dari dalam,” papar Abbas Maelani, pakar tentang Iran di Universitas Stanford, seperti dikutip kolomnis harian Philadelphia Inquirer, T. Robin.

Terlepas dari perkiraan tersebut, yang jelas keputusan Iran melakukan pengayaan uranium di dalam negeri adalah sebagai upaya memperkuat posisi tawar dalam perundingan dengan Barat nanti yang terkenal ”licik”, bukan untuk menantang dunia. [3 R. Awal 1431 H/www.hidayatullah.com]

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang berdomisili di Yaman