Translate

Senin, 28 Juni 2010

Perubahan Iklim Global

BAB I
PENDAHULUAN

A. L atar Belakang
Banyak orang sekarang ini mepermasalahakan pemanasan global yang terjadi akibat ulah manusia. Selain itu banyak orang berusaha untuk menyelamatkan Bumi yang hanya satu ini dari segala perubahan yang terjadi. Benarkan perubahan ini sudah terjadi? Apa yang menunjukkan bahwa sudah terjadi perubahan di Bumi ini?
Menurut hemat penulis saat ini udara sudah terasa semakin panas. Apakah hal ini sudah dirasakan oleh semua orang? Seseorang yang baru pindah dari suatu tempat ke tempat yang memang udara dan suasananya berbeda mungkin tidak terrasa adanya perbedaan, kecuali jika orang tersebut telah menetap beberapa lama pada suatu daerah tertentu. Penulis tinggal di Bandung sejak kecil sehingga dirasakan sekali adanya perbedaan perubahan ini. Saat penulis kecil terasa sekali udara Di Bandung amat dingin dan sejuk. Hal ini dirasakan penulis sampai menjelang remaja. Saat itu, penulis masih sanggup berjalan dari rumah ke sekolah yang jaraknya kurang lebih lima kilometer. Saat itu sebenarnya sudah terasa agak panas tetapi di tepi jalan sepanjang perjalanan rumah ke sekolah masih terdapat banyak pohon hijau sebagai peneduh. Sekarang Bandung sudah sangat panas, hal ini disebabkan pohon peneduh sudah sangat berkurang, juga kendaraan bermotor banyak yang berlalu lalang , selain itu taman dan danau buatan yang ada di kota Bandung sudah berkurang. Perubahan ini menurut penulis sudah terasa sekali.
Jadi perubahan yang terjadi di kota Bandung merupakan suatu ciri adanya perubahan uadara atau suhu. Penulis yakin di daerah lainpun terjadi hal serupa. Di mana udara terasa semakin panas, sehingga hampir semua orang menyatakan Bumi semakin panas. Perubahan ini dipicu oleh adanya pertambahan kendaraan, pengurangan lahan terbuka hijau, karena banyak lahan yang digunakan untuk pemukiman sehingga tumbuhan berkurang. Selain itu banyak orang mendirikan bangunan yang terlalu berdepetan dan tertutup agar terhindar dari maraknya pencurian, yang terjadi karena semakin susahnya hidup dengan ekonomi yang semakin sulit.
Pemanasan global berakibat tidak menentunya cuaca, demikian juga suhu udara yang mengakibatkan panas yang ekstrim dan hujan deras yang berpotensi menyebabkan banjir. Selain itu bencana longsor juga banyak terjadi terutama saat musim hujan. Berbagai bencana longsor dan banjir di Indonesia banyak terjadi, yang pada awal-awal tahun 2010 ini saja sudah terjadi tanah longsor di daerah Ciwidey kabupaten Bandung Jawa Barat, di Jogjakarta, di Jawa Tengah, Pacitan Jawa Timur, dan Mandailing Natal Sumatera Utara, serta seringnya terjadi banjir misalnya di Bogor dan Bandung Selatan Jawa Barat. Banjir di Semarang Jawa Tengah, Sidoarjo Jawa Timur, dan banjir di Jakarta. Selain itu banjir terjadi juga di Pulau Sumatera yaitu Sumatera Selatan misalnya banjir di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kota Palembang, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Prabumulih.

Gambar I.1 Longsor di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung Jawa Barat. ( Kompas, 26022010 )


Gambar I.2 Banjir di daerah Baleendah, Kabupaten Bandung Jawa Barat. ( Kompas, 16022010 )

Terjadinya pemanasan global banyak diakibatkan oleh ulah manusia yang hidupnya semakin serakah ingin menguasai kehidupan ini tanpa memperhatikan kehidupan orang atau makhluk hidup lainnya. Contoh pembabatan hutan yang banyak dilakukan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab atau mungkin oleh orang yang memiliki hak pengelolaan hutan (HPH), di mana banyak pohon di hutan ditebang tanpa mempedulikan lagi keberlanjutan hutan tersebut sehingga banyak hutan gundul. Hutan Gundul dapat mengakibatkan berbagai masalah misalnya longsor, banjir, hilangnya satwa liar yang hidup di hutan atau hilangnya tumbuhan yang berguna sebagai obat, terutama bagi orang-orang Dayak Di Kalimantan.
Sampai saat ini hampir setiap aktivitas manusia umumnya kurang memperhatikan hidup berkelanjutan karena yang diperhatikan hanya dirinya dan kehidupan manusia itu sendiri serta kehidupan masa kini. Sebaiknya saat ini manusia harus mulai memikirkan kehidupan massa depan dan kehidupan untuk berkelanjutan yaitu kehidupan untuk generasi penerus dan kehidupan untuk makhluk hidup lainnya.

B. Kompetensi
PuP3B bukan merupakan materi yang baru dalam pembelajaran karena ada beberapa materi sudah ada dalam Standar Isi, pada modul ini han ya akan dibahas materi yang berhubungan dengan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan perubahan iklim. Jadi untuk materi ini, SK dan KD untuk materi PuP3B dibuat oleh pembuat modul dengan mengacu pada pengertian kompetensi dan standar Isi. Untuk itu SK dan KD untuk materi Perubahan iklim adalah sebagai berikut.
1 Standar Kompetensi
Memahami dan mengimplementasikan materi Pendidikan untuk Pengembangan Pemberdayaan dan Pembangunan Berkelanjutan tentang Perubahan Iklim
2 Kompetensi Dasar
a Mendeskripsikan pengertian cuaca, iklim, dan perubahan iklim
b Menngidentifikasi unsur –unsur cuaca dan iklim
c Mendeskripsikan faktor pengendali iklim
d Mendeskripsikan penyebab terjadinya perubahan iklim
e Mengidentifikasi gas rumah kaca dan sifatnya
f Mendeskrisikan hubungan gas rumah kaca dengan pemanasan global, perubahan iklim, dan musim.
g Mendeskripsikan penyebab deforestasi dan dampak deforestasi
h Mengimplementasikan cara penanggulangan perubahan iklim dalam kehidupan se hari-hari

C. Tujuan
Modul ini ditulis dengan tujuan membantu peserta diktat dalam memahami materi Pendidikan untuk Pengembangan Pemberdayaan Pembangunan Berkelanjutan tentang Perubahan Iklim dan Dampaknya.

D. Deskripsi Singkat
Dalam modul ini akan dibahas tentang pengertian cuaca dan iklim, pengertian perubahan iklim., Gas yang mempengaruhi perubahan iklim dan sifatnya, hubungan antara gas rumah kaca - efek rumah kaca-pemanasan global-perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim akibat kegiatan industri dan transportasi. Adanya deforestasi dan hubungannya dengan perubahan iklim, serta akibatnya pada perubahan musim sehingga terjadi perubahan pola tanam. Dampak perubahan iklim secara global adalah pada berkurangnya jumlah es dikutub dan peningkatan permukaan laut. Perubahan iklim juga mengakibatkan daya adaptasi berbagai spesies menjadi berkurang sehingga mengurangi distribusi beberapa spesies. Perubahan iklim menyebabkan beberapa daerah menjadi kelebihan/ kekurangan air sehingga terjadi banjir/ kekeringan, gagal panen, penyebaran penyakit infeksi, juga menyebabkan sering terjadi bencana dan badai.

BAB II
PERUBAHAN IKLIM

Segala bencana yang banyak melanda kehidupan manusia di Bumi ini, sebenarnya diakibatkan oleh ulah manusia juga, yakni yang kurang memperhatikan alam dan lingkungannya, serta terlalu memperhatikan kehidupannya sendiri, sehingga terjadilah ketidak seimbangan alam. Segala bencana alam ini disebabkan oleh naiknya suhu Bumi yang drastis sehingga terjadi pemanasan global yang selama ini dikumandangkan. Untuk lebih memahami perubahan iklim dan dampaknya ini maka perlu dipahami tentang pengertian cuaca, iklim, dan musim, karenanya pada modul ini akan coba di bahas dahulu mengenai hal tersebut.

A. Cuaca, Iklim, dan Perubahan Iklim
Saat ini ini penulis mencoba untuk mengulas tentang cuaca dan iklim. Cuaca dan iklim merupakan gejala alamiah yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pola cuaca dan iklim seperti periode musim hujan dan kemarau, perlu diketahui dengan baik terutama oleh para petani sehingga petani dapat menentukan musim tanam yang tepat agar produksi pertaniannya baik. Selain itu, kondisi cuaca dan iklim seperti arah dan kecepatan angin diperlukan bagi para nelayan untuk menentukan saat-saat yang tepat pergi ke laut untuk mencari ikan serta masih banyak sektor-sektor kehidupan lain yang berkaitan dengan kondisi cuaca dan iklim.
Pada umumnya orang sering menyatakan kondisi iklim sama saja dengan kondisi cuaca, padahal kedua istilah tersebut adalah suatu kondisi yang tidak sama, khususnya dalam kurun waktu.
1. Cuaca
Cuaca merupakan bentuk awal yang dihubungkan dengan penafsiran dan pengertian akan kondisi fisik udara sesaat pada suatu lokasi dan suatu waktu. Cuaca terdiri atas seluruh fenomena yang terjadi di atmosfir Bumi atau planet lainnya, dan biasanya merupakan aktivitas fenomena dalam waktu beberapa hari. Cuaca terjadi karena adanya perbedaan suhu dan kelembaban antara satu tempat dengan tempat lainnya. Perbedaan suhu dan kelembaban ini dapat terjadi karena perbedaan sudut pemanasan matahari dari satu tempat ke tempat lainnya, yang diakibatkan perbedaan lintang bumi. Cuaca adalah Kegiatan atau kelakuan atmosfer pada waktu tertentu yang sifatnya berubah-ubah setiap waktu atau dari waktu ke waktu

Beberapa definisi cuaca adalah sebagai berikut.
a. Keadaan atmosfer secara keseluruhan pada suatu saat termasuk perubahan, perkembangan dan menghilangnya suatu fenomena (World Climate Conference, 1979).
b. Keadaan variable atmosfer secara keseluruhan disuatu tempat dalam selang waktu yang pendek (Glen T. Trewartha, 1980).
c. Keadaan atmosfer yang dinyatakan dengan nilai berbagai parameter, antara lain suhu, tekanan, angin, kelembaban dan berbagai fenomena hujan, disuatu tempat atau wilayah selama kurun waktu yang pendek (menit, jam, hari, bulan, musim, tahun) (Gibbs, 1987).
Ilmu yang mempelajari seluk beluk cuaca disebut meteorologi. Jadi cuaca dapat diartikan sebagai keadaan udara pada saat tertentu, pada wilayah yang relatif sempit, dalam jangka waktu singkat, dan terjadi akibat bentang alam seperti pantai gunung dan padang rumput. Di Indonesia keadaan cuaca selalu diumumkan untuk jangka waktu sekitar 24 jam melalui prakiraan cuaca hasil analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Departemen Perhubungan. Cuaca di Bumi dipengaruhi juga oleh hal-hal yang terjadi di angkasa, di antaranya angin matahari disebut juga star’s coorona.
2. Iklim
Cuaca rata-rata dengan jangka waktu yang lebih lama dikenal sebagai iklim. Iklim adalah rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama (antara 10 sampai 30 Tahun) yang sifatnya tetap. Menurut Winarso, 2003 pada artikel cuaca dan iklim ( AR Syakur) iklim merupakan kondisi lanjutan dan kumpulan dari kondisi cuaca yang kemudian disusun dan dihitung dalam bentuk rata-rata kondisi cuaca dalam kurun waktu tertentu.
Defenisi lain dari iklim adalah sebagai berikut.
a. Sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference, 1979).
b. Konsep abstrak yang menyatakan kebiasaan cuaca dan unsur-unsur atmosfer disuatu daerah selama kurun waktu yang panjang (Glenn T. Trewartha, 1980).
c. Peluang statistik berbagai keadaan atmosfer, antara lain suhu, tekanan, angin kelembaban, yang terjadi disuatu daerah selama kurun waktu yang panjang (Gibbs,1987).
Jadi iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam selang waktu yang panjang dan meliputi wilayah yang luas. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Matahari adalah kendali iklim yang sangat penting dan sumber energi di bumi yang menimbulkan gerak udara dan arus laut. Kendali iklim yang lain, misalnya distribusi darat dan air, tekanan tinggi dan rendah, massa udara, pegunungan, arus laut dan badai. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis. Secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah atau sub tropis, dan lintang tinggi atau dingin. Ilmu yang mempelajari tentang iklim serta seluk beluknya adalah klimatologi. Aspek cuaca ini diteliti lebih lanjut oleh ahli klimatologi, untuk tanda-tanda perubahan iklim.
Proses terjadinya cuaca dan iklim merupakan kombinasi dari variabel-variabel atmosfer yang sama yang disebut unsur-unsur iklim. Unsur-unsur yang mempengaruhi keadaan cuaca dan iklim suatu daerah atau wilayah, yaitu: suhu atau temperatur udara, tekanan udara, angin, kelembaban udara, awan, curah hujan, dan radiasi matahari. Unsur-unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Saling ketergantungan antar unsur dapat memberikan karakter dari iklim daerah tersebut. Unsur-unsur iklim ini berbeda dari waktu ke waktu dan dari satu tempat dengan tempat lainnya karena adanya faktor-faktor atau pengendali iklim yaitu, (1) ketinggian tempat atau rupa permukaan daratan bumi, (2) posisi relatif terhadap garis edar matahari atau posisi latitude (garis lintang), (3) daerah-daerah tekanan atau pola arah angin, (4) keberadaan lautan/ permukaan airnya atau arus Laut, dan (5) permukaan tanah atau kerapatan dan jenis vegetasi. Gambar dibawah adalah gambar dari sistem iklim secara umum.

Gambar II.1 Model sistem iklim ( )
Cuaca dan iklim adalah proses interaktif alami (kimia, biologis dan fisis) di alam, khususnya di atmosfer. Hal ini terjadi karena adanya sumber energi, yaitu Matahari dan gerakan rotasi Bumi pada poros (kurang 24 jam) serta revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Dalam peristiwa ini, pendekatan fisis lebih dominan daripada kimia dan biologis. Cuaca sebagai kondisi udara sesaat dan iklim sebagai kondisi udara rata-rata dalam kurun waktu tertentu merupakan hasil interaksi proses fisis karena hal ini dipengaruhi oleh hujan, suhu, dan angin.
Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun keberadaanya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia terdapat tiga jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim musim (muson), iklim tropica (iklim panas), dan iklim laut.
Letak wilayah Indonesia ada di daerah tropis yang dilintasi oleh garis Khatulistiwa, sehingga setiap tahunnya matahari melintasi ekuator sebanyak dua kali. Sekitar bulan April-September, matahari berada di utara ekuator dan pada bulan Oktober-Maret matahari berada di selatan. Pergeseran posisi matahari setiap tahunnya menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada saat matahari berada di utara ekuator, sebagian wilayah Indonesia mengalami musim kemarau, sedangkan saat matahari ada di selatan, sebagaian besar wilayah Indonesia mengalami musim penghujan.
Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus beberapa tahunan. Selain perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala lokal maupun skala global.
3. Perubahan Iklim
Perubahan Iklim adalah suatu keadaan dimana pola iklim dunia berubah. Suatu daerah mungkin mengalami pemanasan, tetapi daerah lain mengalami pendinginan yang tidak wajar. Akibatnya akan mengacaukan arus dingin dan panas, maka perubahan iklim juga menciptakan fenomena cuaca yang kacau, termasuk curah hujan yang tidak menentu, aliran panas dan dingin yang ekstrem, arah angin yang berubah drastis. Perubahan Iklim merujuk pada berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi atau perubahan variabel/ unsur iklim, khususnya perubahan suhu, tekanan udara, angin, curah hujan, dan kelembaban secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (inter centenial) yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia. Perubahan iklim sebagai akibat dari Pemanasan Global.
Trenberth, Houghton and Filho (1995) dalam Hidayati (2001) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer yang akan memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang. Menurut Effendy (2001) salah satu akibat dari penyimpangan iklim adalah terjadinya fenomena El-Nino dan La-Nina. Fenomena El-Nino akan menyebabkan penurunan jumlah curah hujan jauh di bawah normal untuk beberapa daerah di Indonesia. Kondisi sebaliknya terjadi pada saat fenomena La-nina berlangsung( A.R. As-syakur, 2007)
LAPAN (2002) mendefinisikan bahwa perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih unsur cuaca pada suatu daerah tertentu. Istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah bumi secara keseluruhan. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2001) menyatakan bahwa perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitas yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih).
Cuaca dan iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik dan dinamis di atmosfer bumi ini berawal dari perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak merata, sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan energi yang berbentuk suatu sistem peredaran udara, selain itu matahari dalam memancarkan energi juga bervariasi atau berfluktuasi dari waktu ke waktu (Winarso, 2003). Perpaduan antara proses-proses tersebut dengan unsur-unsur iklim dan faktor pengendali iklim menghantarkan kita pada kenyataan bahwa kondisi cuaca dan iklim bervariasi dalam hal jumlah, intensitas dan distribusinya. Eksploitasi lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan lingkungan serta pertambahan jumlah penduduk bumi yang berhubungan secara langsung dengan penambahan gas rumah kaca secara global akan meningkatkan variasi tersebut. Keadaan seperti ini mempercepat terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan penyimpangan iklim dari kondisi normal.
Perubahan iklim mungkin karena proses alam secara internal maupun eksternal, atau akibat ulah manusia yang terus menerus merubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan (anthropogenic), khususnya yang berkaitan dengan pemakaian bahan bakar fosil dan alih-guna lahan.
Ternyata iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20, karena, industri semakin berkembang dan transportasi semakin banyak. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekiitar 0,3 oC sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1oC di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun.
Istilah perubahan iklim tidak sama dengan istilah ’pemanasan global’, karena parameter iklim tidak hanya temperatur saja, melainkan ada parameter lain yang terkait seperti hujan dan atau pengembunan, kondisi awan, angin, maupun radiasi matahari. Pemanasan global merupakan peningkatan rata-rata temperatur atmosfer yang dekat dengan permukaan bumi dan di troposfer, yang dapat berkontribusi pada perubahan pola iklim global.
Perubahan iklim ditandai dengan naiknya suhu atmosfer yang lebih tinggi dari sebelumnya. Biasanya kondisi tersebut diikuti dengan kenaikan curah hujan yang disebabkan oleh kenaikan aktivitas konveksi (naiknya massa udara karena pemanasan) di wilayah tersebut. Curah hujan adalah salah satu unsur perubahan iklim (Ahrens, 1988 dalam Slamet dan Berliana, 2006). fluktuasi curah hujan rata-rata baik dari bulanan maupun tahunan serta intensitas hujan dapat menggambarkan perubahan iklim
Murdiyarso (2003) dalam Berliana et al (2005) dalam Slamet dan Berliana (2006) menyatakan bahwa perubahan iklim merupakan perubahan intensitas unsur-unsur iklim (atau unsur cuaca) dalam jangka panjang ( ± 100 tahun). Karenannya, variabilitas iklim musiman (musim hujan dan kemarau yang berubah mendadak), tahunan (musim kemarau atau hujan yang berubah periodisitasnya) dan dekadal (kejadian iklim ekstrim seperti El Nino dan La Nina) tidak termasuk dalam kategori perubahan iklim (A.R. As-syakur, 2008).
Perubahan iklim terjadi diakibatkan adanya pemanasan global karena meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia, seperti industri, transportasi, kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan. Pada umumnya perubahan iklim ditandai dengan terjadinya kenaikan suhu udara di permukaan bumi dan naiknya panas permukaan laut. Pada umumnya di wilayah benua maritim Indonesia memiliki variabilitas unsur iklim curah hujan yang lebih besar dibanding unsur iklim lainnya seperti suhu, tekanan, dan kelembaban udara (Qodrita dan Berliana, 2006).
Studi perubahan iklim melibatkan analisis iklim masa lalu, kondisi iklim saat ini, dan estimasi kemungkinan iklim di masa yang akan datang. Hal ini tidak terlepas juga dari interaksi dinamis antara sejumlah komponen sistem iklim seperti atmosfer, hidrofer (terutama lautan dan sungai), kriosfer, terestrial dan biosfer, serta pedosfer. Dengan demikian, dalam studi-studi mengenai perubahan iklim dibutuhkan penilaian yang terintegrasi terhadap sistem iklim atau sistem bumi. (jacko-agun)

Gambar II.2 Penilaian perubahan iklim yang terintegrasi pada sistem iklim/ bumi ( Lapan)

B. Revolusi Industri
Iklim berubah dapat disebabkan oleh proses alam, atau akibat aktivitas manusia yang terus menerus mengubah tatanan alam dan hidupnya. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan sosial/ budaya maupun perubahan industri atau disebut revolusi dan revolusi industri . Perubahan tatanan alam akan mengubah komposisi atmosfir dan tataguna lahan.
Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun. (Wikipedia)
Revolusi Industri adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya yang terjadi pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 dengan penggantian ekonomi berdasarkan pada pekerja didominasi oleh industri dan mesin memproduksi barang. Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama dalam produksi tekstil). Perkembangan peralatan mesin yang keseluruhannya dari logam, pada dua dekade pertama dari abad ke-19 membuat produk mesin produksi untuk digunakan di industri lainnya ( wikipedia ). Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui. Pengertian Revolusi Industri merujuk dua hal yaitu :
1. proses perubahan yang cepat di bidang ekonomi, yaitu dari kegiatan ekonomi agraris ke ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Dapat juga dikatakan merubah cara kerja yang ada, dari menggunakan tenaga kerja manusia menjadi menggunakan tenaga kerja mesin.
2. revolusi Industri ditandai dengan akibat-akibat yang Revolusioner dalam kehidupan ekonomi, politik, dan social.
Faktor-faktor yang mendorong perkembangan Revolusi Industri di Inggris terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1 Faktor external yaitu terjadinya Revolusi Ilmu Pengetahuan pada abad ke 16 dengan bermunculannya para ilmuan seperti Francis Bacon, Rene Decartes, Galileo Galilei, Copernicus, Kepler, dan Issac Newton. Mereka menemukan alat-alat yang sangat berguna bagi kemajuan tingkat kehidupan manusia. Hal ini ditunjang oleh adanya lembaga-lembaga riset yaitu: The Royal Society for Improving Natural Knowledge dan The Royal Society of England (1662)
2 Faktor-faktor internal yaitu:
a Keamanan dan politik dalam Negara Inggris yang mantap;
b Berkembangnya kegiatan wiraswasta di Inggris dari masyarakat kaya dan pemilik modal;
c Munculnya minat yang luar biasa dari masyarakat Inggris terhadap industri manufaktur;
d Inggris memiliki jajahan yang sangat luas sehingga mudah dalam memperoleh bahan mentah dan daerah pemasaran;
e Inggris kaya akan sumber alam, berupa batu bara dan biji besi yang tinggi mutunya;
f Munculnya paham ekonomi liberal;
g Munculnya Revolusi Agraria yaitu perubahan sangat cepat dalam penataan tanah dengan berlakunya metode baru dalam pertanian yaitu dengan cara pemagaran dan pengelolaan yang terus- menerus melalui pemupukan serta irigasi; dan
h Kegiatan perekonomian berkembang dengan pesat.
i Pada abad 17 berkembanglah dunia pelayaran dan perdagangan. Di Inggris banyak berdiri kongsi dagang seperti : EIC, Virginia Co, Plymouth Co dan Massachussets Bay Co.
Setelah berjalan satu abad, Revolusi Industri memasuki fase baru yang berbeda dari sebelumnya, dan dikenal sebagai Revolusi Industri tahap dua. Ada tiga hal yang terjadi pada periode ini yait : perkembangan proses Bessemer dalam membikin baja pada tahun 1856; penyempurnaan dinamo kira-kira pada tahun 1873; dan penciptaan mesin pembakaran di dalam pada tahun 1876. Perbedaan antara Revolusi Industri tahap dua ini dibanding dengan tahap pertama adalah, (1) adanya penggantian baja ditempat besi sebagai bahan industri pokok; (2) penggantian batu arang dengan gas dan minyak sebagai sumber pokok tenaga dan penggunaan listrik sebagai bentuk pokok tenaga industri; (3) perkembangan mesin otomatis dan peningkatan spesialisasi buruh yang tinggi; (4) penggunaan campuran metal yang ringan dan hasil industri kimia; (5) perubahan radikal dalam transportasi dan komunikasi; (6) pertumbuhan bentuk-bentuk baru organisasi kapitalis; dan (7) tersiarnya industrialisasi di Eropa Tengah dan Timur dan bahkan di Timur Jauh.
Revolusi industri dapat berdampak positif dan negatif bagi perkeembangan manusia. Dampak positif revolusi industri bagi umat manusia terasa dalam berbagai bidang, yaitu:
1. munculnya industri secara besar-besaran;
2. meningkatkan mutu hidup, hidup menjadi lebih dinamis, manusia bisa menciptakan berbagai produksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya;
3. harga barang menjadi murah. Mengapa bisa murah? Coba bayangkan berapa ongkos produksi sehelai baju yang diproduksi dengan mesin dibandingkan produksi dengan alat-alat tradisional!
4. meningkatnya urbanisasi ke kota-kota industri.
5. berkembangnya kapitalisme modern.
6. golongan kapitalis mendesak pemerintah untuk menjalankan imperialisme modern.
Sedangkan dampak negatif revolusi industri khususnya di Inggris adalah upah buruh yang murah menyebabkan timbulnya keresahan yang berakibat pada munculnya kriminalitas dan kejahatan. Upaya untuk memperbaiki nasib buruh dan masalah sosial di Inggris melahirkan aliran sosialisme dan revolusi sosial yang ditandai dengan keluarnya undang-undang.
Akibat dari revolusi industri ini maka hampir semua kegiatan manusia menggunakan mesin dengan bahan bakar fosil ( batu bara, minyak bumi ). Akibat dari penggunaan bahan bakar fosil maka akan terjadi perubahan komposisi zat kimia di atmosfir, yang menyebabkan naiknya suhu udara. Akibat kenaikan suhu udara maka akan terjadi pemanasan global, yang dapat memicu perubahan iklim.

C. Gas Rumah Kaca (GRK) dan Sifatnya
Pada pembahasan pemanasan global, efek rumah kaca dan gas rumah kaca mungkin sudah dibahas dengan sangat baik, sehingga pembahasannya di sini hanya selintas saja. Pembahasan GRK hanya akan mengacu pada sifat-sifat dari gas rumah kaca secara kimia dan efeknya pada pemanasan global.
Sistem kerja gas-gas di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup. Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius.
Pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (infra merah atau gelombang panas) yang dipancarkan oleh bumi, sehingga tidak dapat lepas ke angkasa dan mengakibatkan suhu di atmospher bumi makin panas (Gambar 3). Dengan demikian pemanasan global yang terjadi disebut efek Rumah Kaca dan gas yang menimbulkan pemanasan global disebut Gas Rumah Kaca (GRK), untuk memudahkan perhitungan dalam penurunan emisi, semua gas dinyatakan dalam ekivalen terhadap CO2.
Gelombang panas akan terjebak pada lapisan gas yang berperan seperti dinding kaca atau ‘selimut tebal’. Gas-gas tersebut adalah uap air (H2O), gas asam arang atau karbon dioksida (CO2), gas methana (CH4), gas tertawa atau dinitrogen oksida (N2O), perfluorokarbon (PFC), hidrofluorokarbon (HFC), dan sulfurheksafluorida (SF6). Uap air merupakan GRK yang penting dan pengaruhnya dapat segera dirasakan. Misalnya jika pada saat menjelang hujan atmosfir berawan tebal dan kelembaban tinggi, maka udara akan terasa panas karena radiasi gelombang-panjang tertahan uap air atau mendung yang menggantung di atmosfer. Namun Uap air tidak diperhitungkan sebagai GRK yang efektif dan tidak dipergunakan dalam prediksi perubahan iklim karena keberadaan atau masa hidupnya (life time) sangat singkat (9.2 hari).

Gambar II.3. Penyerapan radiasi gelombang panjang yang memanaskan bumi oleh Gas rumah kaca yang menyelimuti atmosfer bumi (Sumber: Kurniatun Hairiah Unbraw 2010, UNEP/WMO, 2000)

Tiga jenis gas yang paling sering disebut sebagai GRK utama adalah CO2, CH4 dan N2O, karena akhir-akhir ini konsentrasinya di atmospher terus meningkat hingga dua kali lipat (IPCC, 2007). Ketiga jenis GRK tersebut mempunyai masa hidup cukup panjang. Pada tabel 1 diperoleh bahwa dari ketiga GRK tersebut gas CO2 merupakan gas yang paling pesat laju peningkatnya dan masa hidupnya paling panjang, walaupun kemampuan radiasinya lebih rendah dari pada ke dua gas lainnya. Pada tabel 2. diberikan beberapa sifat dari ketiga GRK tersebut.

Tabel II. 1. Karakteristik gas rumah kaca utama (Sumber: Kurniatun Hairiah Unbraw 2010)
Karakteristik CO2 CH4 N2O, ppbv
Konsentrasi pada pra-industri 290 ppmv 700 ppbv 275 ppbv
Konsentrasi pada 1992 355 ppmv 1714 ppbv 311 ppbv
Konsentrasi pada 1998 360 ppmv 1745 ppbv 314 ppbv
Laju kenaikan per tahun 1.5 7 0.8
Persen kenaikan per tahun 0.4 0.8 0.3
Masa hidup (tahun) 5-200 12-17 114
Kemampuan memperkuat radiasi 1 21 206
Efek pemanasan 1 72 296
Keterangan: ppmv = part per million by volume = bagian per juta dengan volume
ppbv: part per billion by volume = bagian per milyard dengan volume
Tabel II.2. Sifat gas rumah kaca utama ( Chemical Dictionary)

Nama Gas Sifat Kegunaan Bahaya
CO2 Dapat berwujud Gas, Cair, dan Padat.
Sifatnya tidak berbau, tidak berwarna, tidak mudah terbakar, larut dalam air, hidrokarbon, dan hampir semua cairan organik, tidak beracun, serta dapat menyesakkan dada
Untuk wujud cair selain sifat di atas juga bersifat mudah menguap
Untuk wujud padat bentuknya serpih atau persegi dan putih seperti salju, sifatnya sama seperti di atas Sebagai pendingin, minuman berkarbonat, pemadam kebakaran, Fotosintesis, Untuk CO2 yang berwujud padat dapat merusak kulit dan jaringan, jauhkan dari mata dan mulut
CH4 Gas yang tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, lebih ringan dari udara, tidak bereaksi dengan asam sulfat, asam nitrat, basa alkali , dan garam, bereaksi dengan klor, brom dengan bantuan cahaya , larut dalam alkohol, eter, sedikit larut dalam air. Metana merupakan gas yang dapat menyesakkan Sumber petrokimia, untuk membentuk metanol, kloroform, tetra klor metan, sebagai sumber energi Sangat mudah terbakar, dan meledak, bila bercampur dengan udara akan meledak.
N2O Gas tidak berwarna, berasa manis, tidak terbakar larut dalam alkohol, eter, dan asam sulfat pekat, sedikit larut dalam air. Dinitrogen oksida merupakan gas yang dapat menyesakkan dada
Anastesi, perawatan gigi,Kedokteran, pendeteksi kebocoran Jika bercampur dengan udara dapat meledak, mendukung pembakaran, pada konsentrasi tinggi bersifat narkotik


D. Hubungan Antara Gas rumah kaca - Efek Rumah Kaca-Pemanasan Global-Perubahan Iklim
Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi yang disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan efek rumah kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut. Demikian juga dengan Bumi, Bumi hangat karena ada GRK yang menangkap panas yang dipantulkan Bumi dan memberikan ERK sehingga Bumi menjadi hangat. Pada saat Bumi hangat, terjadi kesetimbangan aliran panas yang ada di Bumi akibat radiasi sinar Matahari.
Mekanisme kesetimbangan radiasi Sinar Matahari ini dapat dijelaskan sebperti pada gambar 4. di bawah ini. Seluruh radiasi matahari yang menuju ke permukaan bumi. sepertiganya dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan oleh permukaan bumi Pemantulan oleh atmosfer terjadi karena adanya awan dan partikel yang disebut aerosol. Keberadaan salju, es dan gurun memainkan peranan penting dalam memantulkan kembali radiasi matahari yang sampai di permukaan bumi.

Gambar II.4. Mekanisme Aliran panas di Bumi

Dua pertiga radiasi yang tidak dipantulkan, besarnya sekitar 240 Watt/m2, diserap oleh permukaan bumi dan atmosfer. Untuk menjaga kesetimbangan panas, bumi memancarkan kembali panas yang diserap tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek. Sebagian radiasi gelombang pendek yang dipancarkan oleh bumi diserap oleh gas-gas tertentu di dalam atmosfer yang disebut gas rumah kaca. Selanjutnya gas rumah kaca meradiasikan kembali panas tersebut ke bumi. Mekanisme ini disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca inilah yang menyebabkan suhu bumi relatif hangat dengan rata-rata 14oC, tanpa efek rumah kaca suhu bumi hanya sekitar -19oC. Sebagian kecil panas yang ada di bumi, yang disebut panas laten, digunakan untuk menguapkan air. Panas laten ini dilepaskan kembali ketika uap air terkondensasi di awan.
Salah satu komponen iklim adalah temperatur. IPCC menemukan bahwa, selama 100 tahun terakhir (1906-2005) temperatur permukaan bumi rata-rata telah naik sekitar 0.74oC, dengan pemanasan yang lebih besar pada daratan dibandingkan lautan. Adanya kenaikan suhu permukaan Bumi ini diperkirakan akibat ulah manusia yang banyak melakukan pembakaran dengan bahan bakar fosil sehingga menaikkan jumlah GRK . Gas CO2 tersebut sebenarnya dapat di serap oleh pepohonan serta laut dan proses alam lainnya, tapi karena aktifitas manusia yang mengeluarkan gas-gas tersebut lebih cepat di banding dengan proses alam yang menyerapnya maka gas-gas tersebut tidak dapat lagi di tanggulangi. Kondisi tersebut di perparah dengan rusaknya hutan akibat pembukanan ladang dan penebangan liar, yang tadinya hutan sebagai penyerap CO2 sekarang menjadi berkebalikan dari semestinya, karena pohon-pohon yang mati akan mengeluarkan CO yang di tampungnya ke udara. Naiknya suhu permukaan Bumi ini disebut sebagai pemanasan global pemanasan global akan memicu terjadinya perubahan iklim.

E. Industri, Transportasi, dan Hubungannya Dengan Perubahan iklim
Pemanasan global terjadi akibat bertambahnya GRK. Pertambahan GRK banyak disebabkan oleh ulah manusia. Pertumbuhan Industri dan pertambahan transportasi umumnya menggunakan bahan bakar fosil batubara, minyak bumi dan gas sebagai bahan bakarnya, yang akhirnya menghasilkan gas CO2. Selain itu CO2 juga dihasilkan dari penebangan hutan (deforestasi). Menurut data historis konsentrasi CO2 meningkat dari tahun ketahun dan peningkatan secara drastis dimulai sejak di mulainya revolusi industri pada sekitar tahun 1900.
Peningkatan konsentrasi CO2 diatmosfer ini akan mengakibatkan naiknya temperatur permukaan bumi yang dapat meyebabkan melelehnya es di kutub utara dan kutub selatan, akibatnya tinggi permukaan air laut mengalami peningkatan.
Pengamatan selama 157 tahun terakhir menunjukkan bahwa suhu permukaan bumi mengalami peningkatan sebesar 0,05 oC/dekade. Selama 25 tahun terakhir peningkatan suhu semakin tajam, yaitu sebesar 0,18 oC/decade. Gejala pemanasan juga terlihat dari meingkatnya suhu lautan, naiknya permukaan laut, pencairan es dan berkurangnya salju di belahan bumi utara. Semua Gejala pemanasan ini akan memicu terjadinya perubahan iklim.
Dalam laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), satu badan PBB yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia, terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi dan berubahnya sistem iklim di bumi terkait langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia. Beberapa jenis gas rumah kaca tersebut bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan. Di bawah ini diberikan data kegiatan manusia dan banyaknya emisi gas karbon dioksida ( tabel 3.), yang didasarkan pada data Jenis Aktivitas kita menurut Badan Lingkungan PBB (UNEP), dalam Buku “Kick The Habit” (Tahun 2008).

Tabel II.3 Jenis aktivitas dan jumlah Emisi CO2 ( http://www.unep.org/publications/ebooks/kick-the-habit/Pdfs.aspx)
Jenis Aktivitas Jumlah Emisi CO2 (dalam kg)
Diet seorang pemakan daging yang rakus per tahun 6.700
Diet rata-rata orang Amerika per tahun 2.190
Diet seorang lacto-ovo (daging tidak, tetapi telur dan susu masih dikonsumsi) per tahun 1.220
Emisi metana tahunan dari sendawa dan pembuangan angin dari seekor sapi 3.500
Emisi metana tahunan dari sendawa dan pembuangan angin dari seekor sapi 1.740
Karbon yang disimpan hutan hijau per 100 m2 per tahunnya 3.500
Memproduksi 1 ton kemasan plastik (polyethylene) 6.480
Emisi dari ekstrasi untuk pembakaran 1 ton petroleum 3.760
Pembakaran 1 ton minyak mentah 3.060
Mengolah satu hektar gandum/terigu 3.020
Terbang pulang-pergi Paris-New York per satu penumpang 3.670
Emisi dari 1 ton sampah kertas yang dibuang (tanpa didaur ulang) 1.470
Emisi dari 1 ton sampah makanan (tanpa didaur ulang) 1.060
Memproduksi 1 kg daging sapi (rata-rata) 36
Berkendara sejauh 250 km dengan mobil Eropa 36
Emisi metana tahunan dari sendawa dan pembuangan angin dari seekor kambing 370
Emisi metana tahunan dari sendawa dan pembuangan angin dari seekor domba 320
Emisi metana tahunan dari sendawa dan pembuangan angin dari seekor babi 230
Diet seorang vegan per tahun 190
Memproduksi 1 buah burger 3,6 - 6
Menyalakan sebuah TV selama 1 tahun 23
Menyalakan sebuah komputer selama 100 jam 9
Emisi per m2 untuk membangun gudang dengan struktur baja 275
Emisi per m2 untuk membangun sebuah rumah dengan struktur beton 435
Menggunakan satu telepon genggam selama 1 tahun 112
Naik pesawat terbang untuk menempuh seribu km dengan first class 770
Naik pesawat terbang untuk menempuh seribu km dengan business class 510
Naik pesawat terbang untuk menempuh seribu km dengan economy class 220
Menghidupkan kulkas buatan Eropa selama satu tahun 18
Menghidupkan kulkas buatan Amerika selama satu tahun 48
Memproduksi 1 ton tepung terigu 490
Memproduksi 1 ton gula 730
Memproduksi sebuah komputer dan sebuah monitor 275
Menyalakan lampu sebuah rumah selama 1 tahun di negara kaya 135
Memproduksi 100 Kwh listrik di AS 58
Memproduksi 100 Kwh listrik di Jepang 42
Memproduksi 100 Kwh listrik di Eropa 35
Menghidupkan semua peralatan dapur selama 1 tahun (di negara-negara kaya) 80
100 Kwh listrik yang dihasilkan dari batu bara 80-105
Menghidupkan satu bohlam lampu 100 watt selama 20 hari 36
Membuat satu telepon genggam 60
Memproduksi 1 kg baja di Australia 2,3
Memproduksi 1 kg tembaga di Australia 5
Memproduksi 1 kg aluminium di Australia 22
Memproduksi 1 kg nikel di Australia 14

Dari data tabel 3 ternyata memang orang pemakan daging dan perternakan memberikan emisi yang cukup besar terhadap gas rumah kaca. Laporan PBB (FAO) tahun 2006 yang berjudul bayangan panjang peternakan, mencatat bahwa industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18 %), jumlah ini lebih banyak dari emisi gas rumah kaca gabungan seluruh transportasi di seluruh dunia yang menyumbang 13 %, atau pembangkit listrik di seluruh dunia yang menyumbangkan 11 persen GRK . Emisi ini hanya dihitung berdasarkan emisi CO2 saja.
Laporan yang baru saja dirilis Watch Magazine edisi November/Desember 2009 menyatakan bahwa sedikitnya 51 % dari pemanasan global dipertanggungjawabkan oleh peternakan. Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9 % karbon dioksida, 37 % gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2 dalam jangka 20 tahun dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), 65 % dinitrogen oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64 % amonia penyebab hujan asam.Peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. Peternakan juga penyebab dari 80% penggundulan Hutan Amazon.
Gas metana diemisikan oleh berbagai sumber seperti pertambangan dan penimbunan sampah, tetapi sumber utama emisi gas metana adalah industri peternakan dan perikanan. Industri peternakan dan perikanan menghasilkan lebih daripada 100 juta ton gas metana (CH4) per tahun atau setara dengan 2,4 miliar ton karbon dioksida (CO2). Selain itu setiap jenis hewan akan mengemisikan gas metana seperti yang tertera dalam gambar 5.

Gambar II.5 Besarnya emisi gas metana oleh hewan ternak dan manusia
Kotoran dari industri peternakan dan perikanan menghasilkan 0,4 juta ton dinitrogen oksida per tahun, atau 7% dari total emisi akibat ulah manusia (antopogenik). Ternak menghasilkan kotoran yang begitu besar dan beratnya dapat berkali-kali lipat dari berat badannya sendiri. Selain itu Amonia yang berasal dari air seni hewan juga mencemarkan atmosfer yang dapat menyebabkan hujan asam.
Pupuk nitrogen yang dipakai untuk menyuburkan lahan untuk menanam pakan ternak secara tidak langsung juga bertanggung jawab atas emisi dinitrogen oksida (N2O) yang menyumbang 65% dari efek gas rumah kaca. Padahal dinitrogen oksida (N2O) merupakan gas rumah kaca yang mempunyai efek pemanasan 296 kali lipat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Bukan hanya itu, pupuk dan pestisida yang disemprotkan pada tanaman ikut masuk ke atmosfer dan menciptakan campuran karsinogenik yang berbahaya.

F. Deforestasi, Perubahan Iklim, dan Akibatnya pada Perubahan Musim
Salah satu aspek terpenting dari planet kita tinggal adalah pohon. Pohon sangat penting bagi lingkungan, hewan, dan tentu saja bagi kita manusia. Pohon penting untuk pengaturan iklim di Bumi. Pohon beraksi sebagai penyaring gas karbon dioksida. Pohon merupakan tempat perlindungan dan kediaman/ habitat berjuta-juta spesies . Pohon juga penting untuk daya tarik estetika. Namun, pohon-pohon di Bumi sedang terkuras pada tingkat yang sangat cepat. Diperkirakan lebih dari 50 persen pohon /tanaman penutup menghilang akibat aktivitas manusia. Faktor yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah penghancuran hutan hujan dunia secara besar-besaran. Hutan hujan dunia mempunyai keanekaragamanayati yang tinggi, akibat penghancuran akan memperburuk keanekaragaman hayati yang ada, serta menjadi salah satu faktor utama dalam menyumbang kepunahan Holocene di massa mendatang.
Aktivitas penebangan yang pernah dilakukan selama masa pra-sejarah kembali tanggal untuk mengakomodasi populasi yang tumbuh di sepanjang daerah pinggiran hutan. Pilihan alasannya adalah untuk memudahkan mengangkut hasil hutan, kemudahan berburu, khususnya dikejar oleh para petani karena banyaknya curah hujan sekitar kawasan hutan. Apapun alasan dimulainya kegiatan deforestasi ini, saat ini sangat menggelisahkan dan mengancam ekosistem serta mengacaukan keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan yang mendukung atmosfir.
Perusakan hutan terjadi dengan berbagai alasan, salah satu alasan utama adalah keuntungan ekonomi jangka pendek, memperoleh kayu yang digunakan untuk bahan bangunan, mebel, dan produk kertas. Hutan dihapus demi mengakomodasi perluasan wilayah perkotaan atau permukiman dan urbanisasi. Hutan juga ditebang untuk lahan menanam tanaman (ladang berpindah) karena diduga bahwa secara ekonomi tanah berhutan menguntungkan untuk pertanian. Hutan ditebangi dalam rangka menciptakan tanah untuk ternak. Pohon ditebang di negara-negara berkembang untuk digunakan sebagai kayu bakar atau berubah menjadi arang, yang digunakan untuk memasak. Pembukaan hutan juga bertujuan untuk exploitasi tambang dan minyak, untuk membuat jalan. Selain itu perusakan hutan masih dilakukan karena terjadinya kecurangan dan kesenjangan dalam pembagian kekayaan ataupun korupsi. Perusakan hutan dapat dilakukan dengan cara menebang dan membakar hutan.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah banyak yang mengklaim tentang hutan lindung bahwa tujuan pembukaan hutan untuk mengakomodasi pertumbuhan populasi dan keperluan industri. Pada awalnya penebangan dan atau pembakaran pohon diperlukan untuk bahan bakar dan menciptakan padang rumput atau tanah perkebunan, tetapi pada gilirannya menciptakan hal yang mengerikan dalam bentuk penurunan hutan lindung dan terutama perubahan iklim. Saat ini, sudah disaksikan atau dirasakan bahwa pelanggaran atas penggunaan lahan hutan untuk pemukiman telah gagal, dan pada waktunya diperlukan adanya pembentukan hutan kembali. Dampak/efek samping dari deforestasi adalah:
1. Erosi tanah, jika area hutan dibuka, maka tanah akan terpapar sinar Matahari yang akan membuat tanah cepat kering, tidak subur, dan menguapnya nutrisi misalnya hilangnya nitrogen. Selain itu bila hujan turun maka air akan membawa nutrisi dalam aliran air hujan ke saluran air. Karenanya kalau hanya menanam kembali pohon tidak akan banyak membantu menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh deforestasi. Untuk menanam pohon dibutuhkan tanah yang matang, dan mengandung nutrisi yang esensial secara menyeluruh. Akhirnya pengolahan tanah akan mustahil karena tanah yang sudah ditebang pohonnya akan mnjadi tdak berguna. Dalam kaitan dengan erosi tanah maka area tanah yang luas akan menyumbang kemiskinan.
2. Gangguan siklus air, pohon berkontribusi sangat besar dalam mempertahankan siklus air. Pohon mengambil air melalui akarnya , kemudian melepaskannya ke atmosfir. Bagian terbesar sirkulasi air ada di dalam ekosistem hutan-hujan, sebab sisa air akan tertinggal pada pohon. Ketika pohon ditebang daerah tersebut akan menghasilkan iklim yang kering
3. Hilangnya keanekaragaman hayati, keanekaragaman hayati yang unik dari berbagai
area geografi akan hilang pada skala yang sebelumnya pernah terjadi. Meskipun area permukaan hutan-hujan tropik rata-rata hanya enam prosen dari seluruh Bumi, tetapi kira-kira 80-90 prosen dari semua spesies yang ada di alam ada di hutan-hujan tropis. Deforestasi secara besar-besaran akan mengakibatkan 50 sampai 100 jenis spesies hewan akan hilang setiap hari. Hasilnya akan mengakibakan kepunahan dari hewan dan tumbuhan dalam skala besar.
4. Banjir dan kekeringan , satu fungsi hutan yang sangat vital adalah menyerap dan menyimpan air dalam jumlah yang besar secara cepat ketika hujan lebat. Ketika hutan ditebang, pengaturan dari aliran air akan terganggu, yang diatur oleh banjir dan kering secara bergantian di daerah tersebut.
5. Perubahan iklim, telah diketahui bahwa pemanasan global disebabkan oleh emisi GRK seperti CO2 ke atmosfir. Bagaimanapun, bahwa penggundulan hutan/deforestasi sangat erat hubungannya dengan emisi CO2 ke atmosfir belum diketahui dengan baik. Pohon beraksi sebagai gudang penyimpan karbon terbesar, semenjak pohon mengabsorpsi CO2 dari atmosfir, yang digunakan untuk menghasilkan karbohidrat, lemak, dan protein yang membentuk pohon. Pada saat terjadi deforestasi banyak pohon yang terbakar atau dibiarkan membusuk, hasilnya melepaskan karbon yang tersimpan menjadi karbon dioksida. Hal ini yang mengakibatkan konsentrasi CO2 di atomosfir bertambah banyak. Di atmosfir.
Deforestasi menimbulkan kerusakan yang tidak dapat balik ke habitat alami dari banyak spesies satwa liar, tetapi juga mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati dan meningkatkan kegersangan. Hutan lindung yang ditebang untuk memenuhi permintaan kayu tidak lebih dari bagian industri yang berbeda, kegunaannya telah menurunkan dari tanah hijau menjadi tanah sia-sia. Pengabaian dan kelalaian manajemen hutan lindung akan mengancam kelangsungan hidup dari banyak spesies yang sudah terancam punah dan menyebabkan perubahan yang drastis dalam iklim global. Deforestasi terjadi akibat banyaknya desertifikasi dan relokasi penduduk asli. Akibat dari deforestasi adalah hilangnya habitat permanen dan kemudian hilangnya ribuan spesies margasatwa dan ekosistem yang memperkaya planet ini dan hal ini tidak mungkin dapat kembali.
Deforestasi diikuti gejolak - gejala dan telah menghasilkan perubahan yang tetap pada geografi dunia. Deforestasi merupakan penyumbang utama terhadap: (1) Pemanasan global , (2) emisi gas rumah kaca, (3) perubahan iklim global, (4) penyimpanan karbon di tanah, (5) mengurangi kadar oksigen bersih, dan (6) ketidakstabilan biosphere.
Jadi deforestasi akan menyebabkan bertambahnya gas rumah kaca juga menyebabkan longsor dan banjir pada saat musim hujan. Deforestasi menyebabkan bertambahnya GRK yang akhirnya meningkatkan suhu udara maka terjadilah pemanasan global. Adanya pemanasan global memicu terjadinya perubahan iklim yang akibatnya akan mengacaukan peredaran Matahari dan rotasi Bumi, sehingga curah hujan menjadi berubah yang ujungnya musimpun jadi kacau atau berubah.
Pengetahuan tentang iklim dan musim sangat penting dan diperlukan bagi para petani untuk menanam di ladang. Karena saat ini cuaca dan iklim berubah maka musimpun berubah dan ini dapat dirasakan benar keberadaannya. Saat ini banyak petani yang mengeluh karena ladangnya kekeringan atau kebanjiran.


BAB III
DAMPAK DAN PENANGGULANGAN PERUBAHAN IKLIM

Pemanasan global sudah terjadi demikian juga dengan deforestasi, sementara di kota-kota ruang terbuka hijau sudah berkurang makanya udara saat ini sudah terasa panas. Selain itu sekarang ini juga sering disiarkan atau ditulis dalam media cetak bahwa jumlah es atau salju di kutub sudah berkurang apalagi baru-baru ini telah dikabarkan bahwa salju di pegunungan Jaya wijaya, Irian Jaya, Indonesia sudah tinggal 10 % saja. Akibat dari pemanasan global, salju banyak meleleh dan akan terjadi peningkatan permukaan air laut.
Pola curah hujan yang berubah, kenaikan suhu udara, kenaikan permukaan air laut, dan ter jadinya iklim ekstrim yang berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan iklim. Perubahan iklim mendapat perhatian besar karena mempunyai pengaruh pada sistem hidrologi di bumi, yang pada gilirannya berdampak pada struktur dan fungsi ekosistem alami dan kehidupan manusia. Dampak yang mudah terlihat adalah frekuensi dan skala banjir serta musim kering yang panjang, yang terjadi di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Karenanya diperlukan adanya kepedulian terhadap isu perubahan iklim, pemanasan global, dan gas rumah kaca sebab dampak yang ditimbulkan sangat mengancam kehidupan manusia baik dari segi kesehatan maupun dari segi kelangsungan hidup di bumi ini.

A. Dampak
Mark Lynas, seorang Jurnalis dan penyiar acara lingkungan hidup asal Inggris, mengumpulkan semua bukti mengenai perubahan iklim dan mempelajari lebih mendalam tentang berbagai bukti ilmiah serta rasional mengenai efek pemakaian bahan bakar fosil terhadap iklim, lingkungan, dan kehidupan di planet ini, lalu mempublikasikan buku Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet (Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas); sebagai media lain untuk membangkitkan kesadaran. Buku ini membahas perubahan iklim secara sistematik berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian secara ilmiah dengan penggunaan aplikasi komputer tahap lanjut dan juga pencarian secara palaeoclimatic untuk menelusuri sejarah bumi yang memberikan gambaran akan pemanasan iklim di masa mendatang dan akibat yang akan dihadapi. Buku enam Derajat disusun berdasarkan Laporan Perkiraan Ketiga dari Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2001 (http:/www.ipcc.ch). Kenaikan suhu 1 ºC sampai 3 ºC merupakan titik puncak tetapi jika naik sampai pada 6 ºC maka peningkatan ini menyebabkan kepunahan hampir semua kehidupan, termasuk manusia! Juga dari Laporan Sir Nicholas Stern, dalam “Stern Review on the Economics of Climate Change”6 setebal 700 halaman Kepala Badan Ekonomi Pemerintah Inggris, dijabarkan berbagai dampak pemanasan global menurut kenaikan suhu udara setiap 1 derajatnya. Berikut ini sedikit ulasannya.
1. Suhu Udara Naik 1 ºC
a Beberapa gletser kecil di Andes menghilang seluruhnya dan mengancam persediaan air bagi 50 juta orang
b Kenaikan moderat hasil panen sereal di wilayah beriklim sedang
c Setidaknya 300.000 orang setiap tahunnya meninggal karena penyakit akibat perubahan iklim (terutama diare, malaria, dan kekurangan gizi), akan tetapi ada pengurangan angka kematian pada saat musim dingin di wilayah yang lebih tinggi (Eropa Utara, AS)
d Lapisan es di belahan bumi utara mencair dan menyebabkan kerusakan jalan-jalan dan bangunan-bangunan di sebagian Kanada dan Rusia, selain itu akan kehilangan es setengah tahun penuh
e Setidaknya 10% spesies darat akan punah, 80% terumbu karang rusak, termasuk Terumbu Karang Great Barrier terbesar di dunia yang terletak di timur laut Australia
f Arus Teluk melemah
g Atlantik Selatan yang sebelumnya tidak ada badai akan mengalami serangan badai dan di barat AS terjadi kekeringan parah yang mengakibatkan banyak penduduk menderita.
2. Suhu Udara Naik 2 ºC
a Air di beberapa wilayah yang rentan, seperti Afrika bagian Selatan dan Mediterania akan menyusut sebesar 20–30%
b Hasil panen di wilayah-wilayah tropis merosot tajam (5-10% di Afrika)
c 40-60 juta lebih orang menderita malaria di Afrika
d Kira-kira lebih dari 10 juta orang menderita banjir, setiap tahunnya
e 15-40% spesies terancam punah; spesies Kutub Utara, misal beruang kutub dan karibau, kemungkinan besar punah
f Lapisan es Greenland menghilang karena mulai mencair tak terkendali
g Saat lapisan es mencair beruang kutub harus berjuang untuk hidup.
h Lenyapnya batu karang.
i Secara global permukaan air laut mengalami kenaikan sebesar tujuh meter.

3. Suhu Udara Naik 3 ºC
a Di Eropa Selatan, kekeringan hebat terjadi sekali setiap 10 tahun; 1-4 miliar orang lebih menderita kekurangan air, sementara 1-5 miliar orang di tempat lain menderita banjir.
b Seratus lima puluh sampai limaratus lima puluh juta orang kelaparan.
c Satu sampai tiga juta orang lebih mati karena kekurangan gizi; penyakit seperti malaria tersebar luas ke wilayah-wilayah baru.
d Lebih dari satu sampai dengan seratus tujuh puluh juta orang di pesisir pantai menderita banjir
e Duapuluh sampai lima puluh prosen spesies terancam punah, termasuk di sini, 25-60% mamalia, 30-40% burung, dan 15-70% kupu-kupu di Afrika Selatan; hancurnya Hutan Amazon
f Bencana akibat cuaca yang berubah semakin meningkat, runtuhnya Lapisan Es Antartika Barat
g Hutan hujan di Amazon mengering dan intensitas pola cuaca El Nino bertambah menjadi sesuatu hal yang biasa.
h Eropa secara berulang mengalami musim panas yang teramat panas yang sebelumnya sangat jarang terjadi.
i Jutaan dan milyaran orang akan berpindah dari sub tropik menuju daerah pertengahan garis lintang.
4. Suhu Udara Naik 4 ºC
a Persediaan air di Afrika bagian Selatan dan Mediterania akan menyusut sekitar 30-50%
b Suhu udara akan bertambah panas yang menyebabkan hilangnya gletser-gletser di Himalaya dan mempengaruhi jutaan orang di China dan India
c Panen di Afrika dan di seluruh lumbung produksi pangan dunia (misalnya di sebagian Australia) akan merosot sekitar 15-35%
d Di Afrika kira-kira delapan puluh juta orang lebih menderita penyakit malaria
e Setiap tahunnya lebih dari 7-300 juta orang di pesisir pantai akan menderita banjir.
f Lenyapnya separuh wilayah tundra di Kutub Utara; hutan hujan Amazon mati; menyusutnya lapisan es menyebabkan naiknya air laut setinggi 7 meter
g Air laut akan bertambah tinggi dan meluap membanjiri kota-kota di daerah pesisir.
h Hilangnya lapisan es akan mengurangi banyak persediaan air tawar.
i Suatu bagian di Kutub Selatan akan tenggelam dan menyebabkan area air yang meluap semakin jauh.
j Temperatur musim panas di London akan menjadi 45ºC.
5. Suhu Udara Naik 5 ºC
a Daerah yang tidak bisa dihuni semakin menyebar,
b tumpukan es dan air tanah sebagai sumber air untuk kota-kota besar akan mengering
c jutaan pengungsi akan bertambah.
d Kebudayaan manusia akan mulai menghilang seiring dengan perubahan iklim yang dramatik ini.
e Dalam hal ini kelompok yang kurang mampu sepertinya akan menjadi paling menderita.
f Tidak ada lagi es yang tersisa pada kedua kutub seiring dengan punahnya bermacam species di lautan dan tsunami dalam skala besar memusnahkan kehidupan dekat pantai.
6. Suhu Udara Naik Di Atas 5 ºC atau minimum 6 ºC
Pada kenaikan suhu 6 derajat, kepunahan massal sebesar 95% akan terjadi; makhluk yang masih hidup akan mengalami serangan badai dan banjir besar yang terus menerus; hidrogen sulfat dan kebakaran akibat gas metana akan menjadi hal yang biasa. Gas ini berpotensi menjadi bom atom dan tidak ada yang mampu bertahan hidup kecuali bakteri
Bukti terbaru menunjukkan bahwa rata-rata suhu Bumi akan naik lebih dari 5 atau 6ºC bila emisi gas rumah kaca terus bertambah dan menimbulkan bahaya besar pelepasan karbon dioksida dari permukaan tanah dan pelepasan metana dari lapisan es di Kutub Utara maupun dari dasar laut. Kenaikan suhu udara global ini akan setara dengan pemanasan global yang pernah terjadi pada Zaman Es terakhir dan, bila suhu Bumi sampai memanas 6ºC, dampaknya di luar perkiraan manusia.
Sulit dibayangkan, jika perilaku manusia sendiri yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan yang tidak diharapkan ini. Manusia telah membahayakan planet ini dan saat ini berada di ambang kehilangan momentum apabila kita tidak bertindak secepatnya untuk membatasi efek emisi gas rumah kaca.
Mark Lynas tidak ingin pembaca pesimis tentang masa depan planet ini, yang ingin disampaikan adalah peringatan secara dini dan mendesak untuk diperhatikan secara internasional akan usaha bersama untuk mengatasi pemanasan global. Tidak diragukan lagi bahwa pemanasan global terjadi akibat perilaku manusia. Berdasarkan analisis data, berbagai jenis emisi menyebabkan kenaikan temperature.Sesuai data yang telah diperoleh saat ini suhu udara telah mendekati tingkat 2 derajat dan waktu yang tersisa saat suhu udara mencapai kenaikan puncak enam derajat adalah kurang dari satu dekade, dengan demikian pilihan satu-satunya adalah bertindak secepat mungkin serta mengurangi emisi karbon dioksida dan metana.


Gambar III.1. Kejadian-kejadian yang mungkin jika suhu udara terus meningkat. (Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet)

Di bawah ini diberikan data dalam bentuk tabel tentang jumlah emisi karbon dioksida pada setiap kenaikan suhu 1C.

Tabel III. 1 Kenaikan Suhu dan Emisi Karbon*( Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet)
PERUBAHAN SUHU TEMPERATUR YANG BERUBAH DALAM CELSIUS JUMLAH CO2
Satu Derajat 0,1- 1,0 C 350ppm (Level saat ini 380ppm)
Dua Derajat 1,1- 2,0 °C 400ppm
Tiga Derajat 2,1- 3,0 °C 450ppm
Empat Derajat 3,1- 4,0 °C 550ppm
Lima Derajat 4,1- 5,0 °C 650ppm
Enam Derajat 5,1- 5,8 °C 800ppm
*Tabel dari hal 279 di Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas

Enam Derajat adalah adalah berkumandangnya tiupan terompet perang, dan merupakan panggilan kepada semua orang untuk menyadari akan kondisi bumi yang berada pada situasi sangat kritis. Tidak dapat di pungkiri bahwa ulah manusialah yang menyebabkan cepatnya kenaikan perubahan iklim, karenanya saat ini adalah masa terpenting bagi para pemimpin dan tokoh politik untuk mengimplementasikan ketentuan ambang batas dalam mengurangi karbon dan gas dari efek rumah kaca, seperti metana. Oleh sebab itu kita harus mengubah gaya hidup, menuju gaya hidup yang lebih gembira dan lebih sehat seperti berlaih ke energi yang berkelanjutan dan gaya hidup vegetarian untuk menyelamatkan bumi. Waktu yang kita miliki sangat terbatas untuk membuat titik balik. Pemanasan global adalah sebuah realitas dan membutuhkan perhatian semua umat manusia di planet ini. Untuk itu marilah kita segera bertindak untuk menyejukkan bumi kita.
Hal-hal di atas adalah dampak yang diperkirakan menurut versi barat, karena mereka paling banyak melakukan konsumsi dan kegiatan yang merugikan Bumi. Untuk itu diperlukan adanya keadilan Iklim. Keadilan iklim adalah cara pandang baru yang melihat persoalan perubahan iklim bukan hanya sekedar persoalan lingkungan hidup, namun melihat persoalan perubahan iklim sebagai akibat kegagalan model pembangunan yang didasarkan pada keserakahan dalam mengkonsumsi sumberdaya alam, ketidakadilan hubungan antara negara-negara utara dan selatan, pelanggaran hak-hak asasi manusia dan sistem ekonomi pasar bebas.
Dari semua dampak yang muncul, Asia merupakan bagian dari bumi yang paling menderita parah. Setiap kenaikan suhu 2 derajat celcius, produksi pertanian di China dan Bangladesh akan turun sampai 30% pada 2050. Kelangkaan air di India akan semakin bertambah seiring dengan berkurangnya lapisan es di pegunungan Himalaya. Pemukiman warga di sekitar pesisir asia yang berjumlah 100 juta akan tergenang karena permukaan laut meningkat antara 1-3 mm/tahun.
Masalah/ isu kunci yang terjadi di Indonesia dalam hubungannya dengan perubahan iklim adalah perusakan hutan dan perubahan peruntukan tanah, karena keduanya adalah penyebab terbesar kedua dari emisi karbon setelah energi, yaitu sebesar 20%. Merebaknya perusakan hutan dan lahan gambut di Indonesia mempunyai arti bahwa negara ini merupakan salahsatu dari tiga negara utama penghasil emisi karbon dioksida,penyumbang utama pemanasan global.
Dampak yang diprediksi meliputi curah hujan dan banjir hebat, ancaman terhadap ketahanan pangan, meningkatnya ketinggian air laut yang merugikan masyarakat pantai dan meningkatnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia rentan terhadap peningkatan ketinggian air laut, badai dan pengelantangan batu karang (coral reef bleaching) yang diakibatkan oleh pemanasan global yang mengancam masyarakat pantai dan penghidupan mereka, baik itu karena pola iklim yang makin tak dapat diperkirakan untuk musim tanam maupun panen
Untuk Idonesia sendiri, ada sejumlah dampak yang akan terjadi akibat perubahan iklim seperti untuk:
1. ekosistem
a. Bila terjadi kenaikan suhu global rata-rata sebesar 1,5-2,5 derajat Celcius, maka kemungkinannya spesies tanaman dan hewan akan punahnya sebanyak 20-30 perse.
b. Bertambahnya jumlah CO2 di atmosfer akan meningkatkan keasaman di laut. Hal ini berdampak negative pada organisme laut, seperti terumbu karang dan spesies-spesies yang hidupnya bergantung pada organisme tersebut.
2. pangan dan hasil hutan
a. Kenaikan suhu global rata-rata antara 1-2 derajat Celcius menyebabkan produktivitas pertanian di daerah tropis mengalami penurunan, sehingga meningkatkan resiko bencana kelaparan.
b. Frekuensi kekeringan dan banjir akan meningkat dan memberikan dampak negative pada produksi local terutama pada penyediaan pangan di subtropics dan tropis.
3. Pesisir dan dataran rendah
a. Daerah pantai akan semakin rentan terhadap erosi pantai dan naiknya permukaan air laut. Kerusakan pesisir akan diperparah oleh tekanan manusia didaerah pesisir.
b. Pada tahun 2080 diperkirakan setiap tahun, jutaan orang akan terkena banjir karena naiknya permukaan air laut. Resiko terbesar adalah dataran rendah yang padat penduduknya dengan tingkat adaptasi yang rendah. Penduduk yang paling terancam adalah yang berada di delta-delta Asia dan Afrika, namun yang paling rentan adalah penduduk di pulau-pulau kecil.
4. Sumber dan Manajemen air tawar
a. Aliran air sungai dan ketersediaan air di daerah subtropis dan daerah tropis basah diperkirakan akan meningkat rata-rata 10-40 persen.
b. Sementara di daerah subtropis dan daerah tropis yang kering, air akan berkurang 10-30 persen, sehingga daerah-daerah yang sekarang sering mengalami kekeringan akan semakin parah kondisinya.
5. Industri, permukiman dan masyarakat
a. Umumnya industri, permukiman, dan masyarakat di daerah pesisir dan bantaran sungai yang paling rentan, dan mereka yang ekonominya erat kaitannya dengan sumber daya yang sensitive terhadap iklim, serta mereka yang tinggal di daerah-`daerah yang sering dilanda bencana ekstrem, di mana urbanisasi berlangsung dengan cepat.
b. Komunitas miskin sangat rentan karena kapasitas beradaptasi yang terbatas, serta kehidupan mereka sangat tergantung kepada sumberdaya yang mudah terpengaruh oleh iklim seperti persediaan air dan makanan.
6. Kesehatan
Penduduk dengan kapasitas beradaptasi rendah akan semakin rentan terhadap diare, gizi buruk, serta berubahnya pola distribusi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui berbagai serangga dan hewan.

B. Penanggulangan Perubahan Iklim
Tingkat emisi GRK terus meningkat tetapi pasti ada banyak peluang untuk menguranginya. Kita juga mengetahui bahwa untuk menghentikan pemanasan global, tidak mungkin dilakukan seorang diri tetapi harus dilakukan melalui kerja sama semua orang, walau bagaimanapun, sebaiknya mulailah dari diri kita sendiri. Salah satu cara untuk mengurangi pemanasan global adalah melalui perubahan gaya hidup dan pola konsumsi. IPCC memberikan rekomendasi kebijakan dan instrument yang dinilai efektif menurunkan emisi GRK . Berikut ini adalah beberapa langkah praktis untuk menghentikan perubahan iklim yang dapat dilakukan dengan cara sebagai beikut.
1. Diri Sendiri
Ada lima langkah yang dapat dilakukan perorangan Untuk menanggulangi perubahan iklim yaitu sebagai berikut.
a. Selamatkan Kehidupan dan Planet dengan Menghentikan Konsumsi Daging
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah membuka mata dunia bahwa industri peternakan merupakan penyebab utama pemanasan global. Selain itu industri peternakan merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan juga menjadi penggerak utama dalam penebangan hutan. Diperkirakan 80 persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, industri peternakan menghasilkan emisi 2,4 miliar ton CO2. Di luar itu, peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk menanam pakan ternak. The Earth Institute melaporkan bahwa diet berbasis tanaman hanya membutuhkan 25% dari energi yang dibutuhkan oleh diet berbasis daging. Hasil ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago. Untuk itu gantilah pola makan daging dengan pola makan vegetarian, karena hal ini lebih efektif untuk mencegah 50% pemanasan global, daripada mengganti sebuah mobil SUV dengan mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya. Hal ini hanya terjadi di negara-negara barat, sedangkan di Indonesia perternakan besar sepertinya masih sangat jarang. Selain itu konsumsi daging orang Amerika dengan dengan orang Indonesia berbeda, kira-kira 1 banding 10, tetapi untuk mencegah perubahan iklim sebaiknya kiitapun mengikuti saran tersebut.
b. Hemat Energi dan Hemat Sumber Daya Alam
Carilah sumber energi alternatif yang tidak menghasilkan emisi CO¬2 seperti tenaga matahari, air, angin. Jika harus menggunakan bahan bakar fosil gunakanlah dengan bijak dan efisien. DemHematlah energi listrik dan energi lainnya apalagi Indonesia termasuk negara yang banyak mennggunakan bahan bakar fosil untuk pembangkit listriknya. Matikan alat elektronik dari sumbernya atau tekan stekernya. Jangan biarkan alat elektronik dalam keadaan standby. Pergunakan peralatan listrik dan elektronik yang hemat energi. Matikan lampu bila pencahayaan dari luar terang, atau saat kita sedang tidak berada di dalam ruangan. Maksimalkan pencahayaan dari matahari, buka tirai jendela, pergunakan cat berwarna cerah di dalam rumah. Jangan membuka pintu lemari es terlalu lama karena setiap kali pintu lemari es dibuka maka diperlukan tarikan listrik yang tinggi untuk mendinginkannya kembali. Potonglah makanan dalam ukuran yang lebih kecil, karena ukuran makanan yang kecil akan cepat matang dan menggunakan energi lebih sedikit. Gunakan energi penerangan secara efisien dan efektif. Penggunaan lampu hemat energi dan jadwal penerangan rumah yang tepat.
Jangan biarkan kran penampungan air dan atau tabung toilet mengalami kebocoran yang airnya menetes keluar selama 24 jam, selain memboroskan sumber air yang berharga juga memboroskan uang. Gunakan kertas secara bolak-balik untuk mengurangi pembabatan hutan. Hindari kantong plastik sebaiknya bawa tas sendiri.
c. Menanam Pohon dapat Memberi Manfaat bagi Bumi Kita
Jangan lupa, tanamlah tanaman hijau/ pohon di sekitar lingkungan anda tinggal. Selain berguna untuk menyegarkan udara di sekitarnya, pepohonan juga berfungsi menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringan, tetapi setelah mati mereka akan melepaskan kembali CO2 ke udara. Lingkungan dengan banyak tanaman akan mengikat CO2 dengan banyak dan baik. Hal ini harus dipertahankan oleh generasi mendatang, jika tidak maka karbon yang sudah tersimpan dalam tanaman akan kembali dilepas ke udara sebagai CO2. Dinas Kehutanan AS memperlihatkan bahwa dengan menanam 95.000 pohon pada dua wilayah di ibukota Chicago telah memberikan udara yang lebih bersih dan menghemat 38 juta dolar selama lebih dari 30 tahun, sesuai untuk penurunan panas dan biaya pendinginan dalam hal untuk penyerapan emisi GRK.
Hutan mempunyai peranan yang sangat penting. Jika kita mempunyai hutan, maka itu berarti kita mempunyai senjata ekstra untuk memerangi perubahan iklim.
d. Kurangi Emisi (Transportasi dan Industri ) dan Beralihlah ke Energi Alternatif
Gunakan transportasi massa daripada mobil/ kendaraan sendiri selain boros BBM, juga menghindari kemacetan jalan, biaya parkir, dan biaya pemeliharaan mobil. Gunakan satu mobil untuk berangkat atau pulang kerja bersama rekan sekantor bila rumahnya berdekatan atau searah, sehingga bisa berbagi biaya perjalanan dengan mereka. Apabila jarak rumah ke tempat kerja dekat lebih baik jalan kaki atau gunakan sepeda, selain menghemat biaya perjalanan juga baik untuk menjaga kebugaran tubuh dan pengurangan emisi. Apabila memakai mobil/ kendaraan sendiri, pergunakan kendaraan yang hemat bahan bakar dan gunakan bahan bakar yang bersih atau bahkan beli mobil hibrida jika Anda mampu.
Kejelian dalam memilih produk merupakan bantuan besar dalam mengendalikan emisi GRK. Secara keseluruhan, produk lokal akan memberikan emisi GRK yang lebih kecil dibandingkan produk impor, sebab produk impor akan mengemisikan GRK cukup besar pada proses transportasinya dari negara asal ke negara tujuan.
e. Daur Ulang dapat Membawa Perubahan
Kalifornia memperkirakan bahwa daur ulang pada setiap negara bagian akan menghemat penyaluran energi untuk 1,4 juta rumah, dan mengurangi 27.047 ton polusi pada air, menyelamatkan 14 juta pohon, dan mengurangi efek emisi gas rumah kaca yang setara dengan 3,8 juta mobil. Universitas Teknik di Denmark menemukan bahwa aluminium yang didaur ulang menggunakan 95% lebih sedikit energi dibanding alumunium yang tidak didaur ulang, 70% lebih hemat energi untuk plastik, dan 40% lebih untuk kertas.
Dari semua hal di atas yang terpenting adalah berubah yang didasari atas keinginan dan motivasi diri sendiri untuk berubah. Saran-saran di atas tidak akan berarti jika hanya sebagai bahan bacaan, tanpa ada tindakan nyata. Kita harus mulai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu mengambil langkah ekstrim untuk langsung berubah dalam waktu semalam bila hal itu terlalu berat. Lakukanlah secara bertahap tapi konsisten dengan komitmen kita. Jadilah contoh nyata bagi lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Contoh dan praktik yang kita berikan sangat penting untuk menginspirasi banyak orang lain berubah. Bersuaralah dan beritahu pemerintah, media, keluarga, kerabat, tetangga, sahabat, teman sekolah, rekan kerja, dan masyarakat sekitar untuk menyelamatkan Bumi dari ancaman pemanasan global dan perubahan iklim. Berilah mereka dorongan untuk mencoba pola hidup mulia yang akan menyelamatkan planet kita tercinta ini.


Gambar III. 2 Cara mengatasi pemanasan global/ perubahan iklim. ( Lapan)

2. Pejabat pemerintahan dapat melakukan tindakan dan kebijakan melalui berbagai sektor yaitu sebagai berikut.
a. Sektor Energi , berbagai kegiatan dapat dilakukan misalnya:
1) mengurangi subsidi bahan bakar fosil, sudah dilaksanakan dengan menaikkan harga BBM.
2) pajak karbon untuk bahan bakar fosil, sudah dilakukan yaitu pada harga solar.
3) kewajiban menggunakan energi terbarukan yang masih dicari alternatifnya.
4) penetapan harga listrik bagi energi terbarukan.
5) subsidi bagi produsen
b. Sektor Transportasi berbagai arah yang dapat dilakukan adalah
1) Kewajiban menggunakan bahan bakar yang ekonomis terutama untuk emisi gas CO2, misalnya dengan menggunakan biofuel dan bahan bakar ber gas CO2 standar untuk alat transportasi jalan raya.
2) Pajak untuk perbaikan jalan, rambu-rambu lalu lintas, serta sarana prasarananya, misalnya area parkir.
3) Pembiayaan untuk STNK, SIM, asuransi kecelakaan, serta tarif penggunaan jalan, dan parkir.
4) Merancang kebutuhan transportasi melalui regulasi penggunaan lahan serta perencanaan infrastruktur.
5) Melakukan investasi pada fasilitas angkutan umum dan transportasi tak bermotor.
c. Sektor Gedung, kegiatan dan arahan yang dapat dilakukan adalah
1) Menerapkan standard dan pemberian label pada berbagai peralatan dan sarananya.
2) Sertifikasi dan regulasi gedung
3) Program-program pengaturan permintaan.
4) Kalangan pemerintah memberikan contoh termasuk pengadaan.
5) Memberi insentif untuk perusahaan atau perumahan yang melakukan jasa energi
d. Sektor Industri kegiatan dan arahan yang dapat dilakukan adalah
1) Pembuatan standar produk dan standar raw material, standar kerja dan Upah.
2) Melaksanakan pemberian kredit, subsidi, pajak untuk kredit.
3) Izin yang dapat diperjualbelikan
4) Perjanjian sukarela.
e. Sektor pertanian kegiatan dan arahan yang dapat dilakukan adalah
1) memberikan insentif financial serta regulasi-regulasi untuk memperbaiki manajemen lahan.
2) mempertahankan kandungan karbon di dalam tanah,
3) penggunaan pupuk dan irigasi yang efisien.
f. Sektor kehutanan
1) memberikan Insentif financial (nasional dan internasional) untuk memperluas area hutan,
2) mengurangi deforestasi,
3) mempertahankan hutan, serta manajemen hutan.
4) memberikan hukuman yang setimpal pada orang-orang yang melakukan ilegal logging meregulasi pemanfaatan lahan serta penegakan regulasi tersebut.
g. Sektor manajemen limbah
1) memberi kan insentif financial untuk orang yang melakukan manajemen sampah dan limbah cair.
2) memberikan insentif dan mewajibkan meggunakan energi terbarukan.
3) melakukan regulasi manajemen limbah.

Perubahan iklim jelas menyengsarakan kehidupan umat manusia. Kerugian materi dan juga korban nyawa adalah akibat yang harus kita terima. Oleh karena itu, sudah saatnya kita, pemerintah, industri dan masyarakat, bahu-membahu berupaya untuk menghambat terjadinya perubahan iklim.
Walaupun berbagai bencana cuaca telah terjadi seperti yang diberitakan dalam media cetak maupun audiovisual, namun menurut kajian beberapa ahli keadaan cuaca seperti ini belum merupakan perubahan iklim tapi masih merupakan anomali atau variadibilitas cuaca.
Menurut Winarso (2003) dalam A. R. As-Syakur, berdasarkan kajian dan pantauan di bidang iklim, siklus cuaca, dan iklim terpanjang adalah 30 tahun, dan terpendek adalah10 tahun, di mana kondisi ini dapat menunjukkan kondisi baku yang umumnya akan berguna untuk menentukan kondisi iklim per dekade.
Seandainya mengikuti suatu siklus iklim atau dikatakan kejadian-kejadian bencana cuaca merupakan suatu perubahan iklim, maka kejadian diatas harus terjadi selama 10 sampai 30 tahun berturut-turut atau rata-rata kejadian ekstrim tersebut harus lebih banyak dari rata-rata kejadian normal selama 10 sampai 30 tahun, tetapi kita tidak berharapkan anomali ini terjadi terus menerus. anomali cuaca ini merupakan tanda akan terjadinya perubahan iklim, mudah-mudahan kita sebagai manusia yang berakal bisa beradaptasi lebih cepat dari proses perubahan iklim ini sehingga bisa menyelamatkan lebih banyak mahluk hidup dibumi ini. Fenomena perubahan iklim tidak bisa dihindari lagi, kita hanya bisa mengurangi dampak negatifnya (mitigasi) atau menghambat laju prosesnya (Rachmat Witoelar).


BAB IV
EVALUASI


Pada bagian ini diberikan beberapa masalah yang berhubungan dengan perubahan iklim, dampak dan penanggulangan pemanasan global.

1. Jelaskan apa perbedaan cuaca dan iklim!
2. Apa yang diartikan dengan perubahan iklim global?
3. Parameter apakah yang menentukan cuaca dan iklim?
4. Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim?
5. Jelaskan faktor-faktor pengendali iklim!
6. Identikkan pemanasan global dan perubahan Iklim?
7. Apa yang dimaksud dengan GRK?
8. Aktifitas apakah yang memberikan emisi GRK paling besar?
9. Jelaskan mengapa CO2 yang dilepas ke udara di daerah tropis lebih besar dari daerah subtropis?
10. Jelaskan mengapa deforestasi menyebabkan meningkatnya emisi GRK?
11. Jelaskan dampak dari perubahan iklim terhadap ekosistem?
12. Jelaskan mengapa revolusi industri menyumbang emisi GRK di atmosfir?
13. Jelaskan mengapa perternakan menghasilkan emisi GRK cukup besr?
14. Apakah masyarakat Indonesia harus menjadi vegetarian untuk mengurangi emisi GRK? Jelaskan!
15. Data karakteristik GRK adalah sebagai berikut.
Karakteristik gas rumah kaca utama (Sumber: Kurniatun Hairiah Unbraw 2010)
Karakteristik CO2 CH4 N2O, ppbv
Konsentrasi pada pra-industri 290 ppmv 700 ppbv 275 ppbv
Konsentrasi pada 1992 355 ppmv 1714 ppbv 311 ppbv
Konsentrasi pada 1998 360 ppmv 1745 ppbv 314 ppbv
Laju kenaikan per tahun 1.5 7 0.8
Persen kenaikan per tahun 0.4 0.8 0.3
Masa hidup (tahun) 5-200 12-17 114
Kemampuan memperkuat radiasi 1 21 206
Efek pemanasan 1 72 296

a. Andaikan GRK tersebut ada dalam keadaan normal, jelaskan dari manakah gas metana dihasilkan !
b. Bahan bakar fosil pada senyawanya tidak mengandung nitrogen tetapi pada pembakarannya dapat menghasilkan N2O? Jelaskan mengapa demikian!
c. Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah CO2 di udara? Jelaskan!
16. Konsentrasi CO2 saat ini adalah 300 ppm dan penambahan gas CO2 ke atmosfir adalah 15 ppm Andi berusaha menanam pohon dengan kerindangan sedang dan setiap hari pohon kecil itu dapat menangkap CO2 sebanyak 5 ppm. Setiap tahun daya penangkapan CO2 oleh pohon bertambah sebanyak 5 ppm. Setelah 2 tahun ternyata pohon tersebut menjadi sangat rindang. Agar pohon tersebut dapat mengurangi CO2 di atmosfir sebanyak 200 ppm. Andaikan Penambahan CO2 ke atmosfir adalah tetap .
a. Berapa pohon harus ditanam oleh Andi?
b. Berapa lamakah Andi harus menanam pohon tersebut?
c. Jika jarak tanam pohon tersebut 0,2 m berapa luas tanah yang dibutuhkan Andi untuk menanam pohon tersebut?


Glosarium

Audiovisual istilah yang digunakan untuk suara dan gambar secara bersama
Adaptasi Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk:
* memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan).
* mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas.
* mempertahankan hidup dari musuh alaminya.
* bereproduksi.
* merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup
Deforestasi Deforestasi merupakan suatu kondisi saat tingkat luas area hutan yang menunjukkan penurunan secara kualitas dan kuantitas.
Dekade = dasawarsa adalah unit waktu yang terdiri dari 10 tahun. Umumnya, satu dasawarsa dimulai pada tahun yang berakhir dengan angka 0, dan berakhir pada tahun yang berakhir dengan angka 9. Contoh: dasawarsa 80-an, dimulai dari tahun 1980 sampai 1989.
Ekosistem Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya[1]. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi[1].
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme[1]
Garis equator Dalam geografi, ekuator atau garis khatulistiwa adalah sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Garis khatulistiwa ini membagi Bumi menjadi dua bagian belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis lintang ekuator adalah 0°. Panjang garis khatulistiwa Bumi adalah sekitar 40.070 km. Di khatulistiwa, matahari berada tepat di atas kepala pada tengah hari dalam equinox. Dan panjang siang hari sama sepanjang tahun kira-kira 12 jam.
Garis lintang Bumi = latitude = 1. Garis lintang itu adalah garis maya yang melingkari bumi ditarik dari arah barat hingga ke timur atau sebaliknya , sejajar dengan equator (garis khatulistiwa). Garis lintang terus melingkari bumi, dari equator hingga ke bagian kutub utara dan kutub selatan bumi. Menurut penamaannya, kelompok garis yang berada di sebelah selatan equator disebut Lintang Selatan (S). Sedangkan kelompok garis yang berada di sebelah utara equator disebut Lintang Utara (U). Jarak antar garis dihitung dalam satuan derajat. Garis lintang yang tepat berada pada garis khatulistiwa disebut sebagai 0º (nol derajat). Makin ke utara atau ke selatan, angka derajatnya makin besar hingga pada angka 90º (Sembilan puluh derajat) pada ujung kutub utara atau kutub selatan.

2. Menandakan perbedaan zona iklim di bumi. Daerah diantara garis Khatulistiwa yang diapit oleh garis CANCER dan garis CAPRICORN (antara 23,27 o LU – 23,27 o LS) disebut daerah tropis, karena di sanalah sepanjang waktu matahari bersinar pada siang hari, di daerah ini hanya dikenal 2 musim yaitu musim panas dan penghujan. Sementara daerah antara 23,27o LU dan 66,33oLU serta antara 23,27oLS dan 66,33oLS disebut daerah sub-tropis, di daerah ini dapat terjadi 4 musim yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Sementara di daerah dekat Kutub utara dan selatan (90oLU dan 90oLS) dapat terjadi masa dimana dalam satu hari tidak muncul matahari, atau sebaliknya dalam satu hari matahari selalu bersinar (dikenal dengan istilah matahari tengah malam)

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (Bahasa Inggris: biodiversity) adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis. tidak terdistribusi secara merata di bumi; wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya, dan jumlah keanekaragaman hayati terus menurun jika semakin jauh dari ekuator.
Klimatologiadalah studi iklim, ilmiah didefinisikan sebagai kondisi cuaca rata-rata selama periode waktu tertentu, dan merupakan cabang dari ilmu atmosfer . Pengetahuan dasar iklim dapat digunakan dalam peramalan cuaca jangka pendek dengan menggunakan teknik analog seperti El Niño
Komunitass sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupal
Metrologi ilmu yang mempelajari atmosfer bumi khususnya untuk keperluan prakiraan cuaca atau ilmu pengetahuan yang mempelajari dan membahas gejala perubahan cuaca yang berlangsung di atmosfer.
Pemanasan global adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
ppm bagian persejuta, satuan konsentrasi dengan satuan miligram zat terlarut setiap Kilogran atau Liter pelarut
ppb bagian permilyard, satuan konsentrasi dengan satuan mikrogram zat terlarut setiap Kilogran atau liter pelarut
DAFTAR PUSTAKA
Dara, S.S. 1998. A Textbook of Environmental Chemistry and Pollution Control. Ram Nagar, New Delhi. Rajendra Ravindra Printers (PVt.) Ltd.
Soerjani, Mohamad. 2009. Pendidikan Lingkungan Hidup, Jakarta, Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan.
Hendriani,Yeni. 2007. Pendidikan Lingkungan Hidup: Wawasan LH/PLH dan Etika Lingkungan, Bandung, PPPPTK IPA.
Petrucci, Ralph. A., Will, John W. 2002. General Chemistry, An Integrated Approach, 3th edition. New Jersey . Prentice Hall, Inc.
...., 2006. Pedoman Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) , Buku I (Utama) dan Buku II ( AcuanTeknis). Bandung. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah ( BPLHD ) Provinsi Jawa Barat.
http://www.beritalingkungan.com/kolom/2009-11/mengenal-cuaca-dan-iklim/
http://mbojo.wordpress.com/2007/04/15/cuaca-dan-iklim/
http://mbojo.wordpress.com/2007/08/13/bencana-cuaca/
http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=78&Itemid=77
http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=79
http://jcholics.blogspot.com/2009/11/global-climate-change.html http://www.scribd.com/doc/13262601/Sejarah-Revolusi-Industri http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri
http://www.scribd.com/doc/13262601/Sejarah-Revolusi-Industri
http://pusat-akademik.blogspot.com/2008/10/revolusi-industri-hijau-dan-biru.html
http://www.bpphp17.web.id/database/modul/carbon%20trade/Modul%201.pdf http://infoenergi.wordpress.com/2007/05/12/perubahan-iklim-apa-dan-bagaimana/
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=BAnyaknya+CO2+yang+dihasilkan+oleh+alat+transportasi&btnG=Telusuri&meta=&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=
http://armisusandi.com/articles/working_paper/PERKEMBANGAN ENERGI DI INDONESIA SEBAGAI DAMPAK.pdf
http://www.bpphp17.web.id/database/modul/carbon%20trade/Modul%201.pdf
http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.buzzle.com/articles/facts-about-deforestation.html&rurl=translate.google.com&twu=1&usg=ALkJrhgQJAQoL_ klAMmJ5ZieiUef-QDz2g
http://www.perubahaniklim.net/dampak-perubahan-iklim.htm

http://www.perubahaniklim.net/berapa-emisi-karbondioksida-kita.htm
http://www.perubahaniklim.net/Enam-Derajat-Masa-Depan-Kita-di-Planet-yang-Semakin-Panas.htm
http://www.unep.org/publications/ebooks/kick-the-habit/Pdfs.aspx
http://forplan.or.id/images/File/Apforgen/fenomena%20global%20warming2008.pdf
http://www.perubahaniklim.net/#
http://dte.gn.apc.org/CCcomp09.pdf
http://dte.gn.apc.org/CCcomp09.pdf
http://www.perubahaniklim.net/lima-langkah-darurat-untuk-menyelamatkan-bumi-dari-perubahan-iklim.htm
http://www.perubahaniklim.net/dampak-industri-daging-terhadap-perubahan-iklim.htm
http://walhibali.blogspot.com/2007/08/perubahan-iklim-dan-dampaknya-bagi.html http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf