Selasa, 24 Mei 2011

Benarkah Jaman Soeharto Lebih Baik Dari SBY

Jaman soeharto lebih baik dari jaman SBY, begitu hasil survey beberapa waktu lalu. Langsung saja Survey ini di bantah dengan segala cara dan segala argumentasi oleh orang-orang dekat presiden SBY. Memang dua periode ini adalah dua periode yang berbeda sangat jauh karena memang di hadapkan dengan perkembangan global yang sangat jauh.

Era SBY adalah era globalisasi di mana Negara berada dalam fase harus membuka dirinya. Maka Bangsa Indonesia di era SBY harus membuka dirinya dari bangsa lain di dunia. Konsekuensinya semua bentuk bea tarif yang menghambat arus barang dari Negara mana pun datangnya harus di hapuskan. Demikian pula subsidi harus pula di hapuskan karena akan menyebabkan Negara menanggung biaya sangat besar karena berlakunya perdagangan bebas dari selisih harga di dalam negeri dan di pasaran bebas. Subsidi /keringanan pajak juga bisa menyebabkan terjadinya praktek dumping karena perbedaan harga di dalam negeri dan di pasar ekspor sehingga bertentangan dengan prinsip pasar bebas.

Dampaknya segala barang akan menjadi sangat mahal, yang di impor akan membanjiri pasar lokal. Barang dari luar negeri akan sangat banyak dari segi jumlah dan kualitasnya pun jauh di atas kualitas produk dalam negeri. Maka sekarang ini barang impor berharga murah berlabel made in Cina membanjiri dalam segala segi, pakaian, elektronik, mainan,makanan,dan sangat banyak lagi yang lain. Demikian juga barang ekspor menjadi susah bersaing kecuali barang mentah dari negeri kita seperti rotan, minyak mentah, batu bara, gas, dan lain-lain kekayaan alam kita, itu pun di jual dengan harga sangat murah dan kebanyakan oleh perusahaan asing juga yang menjadi pemegang saham mayoritas perusahaannya.

Dua hal inilah yang menjadi dua hal utama pembeda jaman SBY dan Suharto. Maka bisa di maklumi bila harga-harga barang pada jaman Suharto menjadi sangat murah, kedelai bahan tahu tempe, harga gabah tinggi karena di tampung Negara melalui bulog, harga pupuk dan obat-obatan padi murah , harga premium dan minyak tanah begitu murah. Sementara itu jaman SBY semua barang serba mahal, harga bensin dan Minyak tanah sudah naik berlipat lipat, pakaian dan semua barang impor membanjir, petani menjerit karena semua biaya produksi meningkat sementara harga gabah justru menurun dan atau stabil tak naik-naik, padahal harga beras telah naik 2 kali lipat.

Masyarakat kebanyakan memang bukanlah warga Negara yang pandai. Mereka memang hanya tahu tentang naiknya harga barang, susahnya mendapat seliter bensin dan kalau pun dapat harus dengan harga mahal. Mereka juga hanya tahu bahwa biaya sekolah sangat mahal, biaya pakaian naik, biaya harian tak ada yang murah. Namun memang hal itulah yang reel di rasakan oleh masyarakat. Jadi bukan slogan-slogan turunnya jumlah pengangguran, naiknya pendapatan perkapita, naiknya harga saham sampai tertinggi dalam sejarah, dan banyak lagi klaim yang sama sekali tak di mengerti oleh warga kebanyakan.
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung

Arsip Blog