Senin, 26 September 2011

Briptu Norman Kamaru Mundur Dari Brimob, Biarlah

Briptu Norman Kamaru keluar dari Brimob, begitu berita yang santer belakangan. Tampaknya keputusan ini sangat aneh bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Hal ini karena pekerjaan sebagai polisi terlebih dalam kapasitas sebagai anggota Brimob yang merupakan satuan elit kepolisian. Apalagi keputusan untuk keluar itu di sebabkan karena keinginannya yang sangat kuat untuk menjadi atau lebih leluasa dengan ke artisannya. Padahal siapa pun tahu bahwa menjadi artis bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, penuh perjuangan dan sangat menyakitkan. Artis baru bermunculan setiap hari dengan wajah dan tampilan suara jauh lebih bagus dari Norman. Maka ketika Norman melepaskan ke Briptu annya bisa jadi ketertarikan masyarakat untuk melihat penampilannya menjadi hilang.
Untuk Kepolisian sesungguhnya kehilangan seorang Norman tidak akan berarti apa-apa karenanya mungkin tidak perlu upaya apa pun untuk mencegah Norman keluar dari kepolisian, dan memang tampaknya tidak ada usaha tersebut, yang terjadi adalah kepolisian meminta agar mundurnya Norman sesuai dengan prosedur yang berlaku. Bila Norman sekarang telah desersi selama 1 bulan maka hukum harus di tegakkan dalam hal ini terlebih dahulu, demi menjaga kewibawaan Polri. Demikian juga dengan keharusan Norman untuk menggantikan biaya pendidikannya, haruslah di tegakkan. Setelah semua urusan itu selesai barulah proses melepas Norman di lakukan. Upaya menghalangi keluarnya Norman justru hanya membuat Norman besar kepala dan membuatnya makin banyak mendapat porsi pemberitaan. Sudahlah, lepaskan saja Norman,”si anak yang sedang di mabuk popularitas”. Sangat banyak Norman-Norman baru yang akan muncul dan menggantikan sang Briptu Norman.
Briptu Norman nampaknya harus berpikir secara matang jika ingin keluar dari keplisian. Hal ini karena sebenarnya masyarakat selama ini tidaklah melihat kepada Norman sebagai pribadi namun melihat kepada pakaian Brimob yang di pakaianya ketika pentas, maka ketika Norman tampil tidak dengan pakaian Briptunya kemungkinan besar tidak akan besar lagi antusiasme masyarakat kepadanya. Janganlah pepatah karena hendak meraih intan emas di tangan di lepas(ada gak ya pepatah begitu)terjadi. Di sangka Intan padahal hanya semata fatamorgana. Pekerjaan sebagai Polisi, sebagai PNS adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan sekarang ini. Dengan gaji pokok golongan 3 sekitar 2,5 juta di tambah renumerasi 1,5 juta di tambah uang lauk pauk sekitar 1 juta maka minimal sesungguhnya dengan gaji sebesar 5 juta adalah sangat cukup untuk hidup dengan layak.
Siapa pun memang harus memilih dalam hidupnya dan terkadang memang pilihan akan sangat sulit .Dan pilihan yang sudah di ambil harus di pertanggung jawabkan dengan sebaik-baiknya. Hanya hendaknya siapa pun bisa memilih dengan tanpa mengabaikan suara nurani, melepaskan terlebih dahulu baju dunia yang tengah di kenakannya. Dengan begitu harapannya pilihan akan benar benar benar, betul betul betul.
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung

Arsip Blog